Konferensi pers AMI Awards di Makassar
MAKASSAR, SMARTMAKASSAR.COM – Musik dari Indonesia Timur kini memiliki kategori tersendiri di ajang Anugerah Musik Indonesia (AMI) Awards. Genre yang sebelumnya dikenal komunitas sebagai Timurnesia diakomodasi pada penyelenggaraan ke-29 tahun ini dengan nama Pesta Timur.
AMI Awards ke-29 dijadwalkan berlangsung pada 8 November 2026 dengan tema Ruang Nada Nusantara. Ketua Yayasan Anugerah Musik Indonesia Chandra Darusman menyebut, ajang ini bukan kegiatan rutin biasa karena setiap tahun selalu menghadirkan karya baru dan kejutan.
“Memang kegiatan AMI ini lintas generasi, lintas genre, lintas gender, lintas golongan, lintas gagasan,” ujar Chandra saat konferensi pers di Hotel Claro Makassar, Selasa (27/10).
Dari Timurnesia ke Pesta Timur

Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon mengatakan, kehadiran genre Pesta Timur berawal dari usulan komunitas Timurnesia yang sebelumnya mendatangi kantor Kementerian Kebudayaan. Menurutnya, hal itu menunjukkan genre musik bersifat dinamis mengikuti perkembangan zaman.
Fadli menilai musik Indonesia Timur telah tumbuh subur sejak lama. Ia menyebut grup-grup Papua seperti Black Brothers, Black Sweet, dan Black Papas yang punya ciri khas pada era 1970-an hingga 1980-an. Kini, lagu-lagu Indonesia Timur seperti Tabola Bale, Stecu-Stecu, dan Veronika bahkan viral di tingkat nasional.
“Artinya musik itu universal dan mudah sekali diterima oleh masyarakat kita,” kata Fadli.
Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha membenarkan bahwa usulan nominasi Pesta Timur berasal dari komunitas. Ia mengapresiasi pihak AMI yang terus mendengar masukan komunitas dan ekosistem musik. “Masukan-masukan dari komunitas dan ekosistem terus didengar oleh teman-teman AMI,” kata Giring.
Ia juga menegaskan pemerintah tidak ikut campur dalam penentuan nominasi maupun pemenang. Seluruh proses diserahkan kepada Chandra Darusman selaku Ketua Yayasan AMI, yang menurut Giring tidak pernah memasukkan lagunya sendiri ke nominasi demi menghindari konflik kepentingan.
Dukungan Dana dan Tantangan Ekspor Musik

Fadli Zon menyebut musik Indonesia kini sudah menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Merujuk statistik tangga lagu 50 teratas, sekitar 80 persen masyarakat Indonesia mendengarkan musik Indonesia, melampaui musik Korea. Namun, menurutnya, musik Indonesia belum mampu diekspor seperti K-pop.
“Tinggal berikutnya adalah bagaimana ke next level-nya itu, musik Indonesia bisa dinikmati di negara-negara tetangga, bahkan di dunia internasional,” ujar Fadli.
Untuk mendukung hal itu, Kementerian Kebudayaan memiliki skema Dana Indonesiana, dana abadi kebudayaan yang tahun lalu ditambah menjadi Rp6 triliun. Tahun ini dana tersebut disalurkan kepada 4.158 penerima dari lebih dari 15.000 proposal yang masuk. “Sulawesi Selatan termasuk daerah yang penerimanya cukup banyak,” ujar Fadli Zon.
Kementerian juga menjalankan program Manajemen Talenta Nasional (MTN) yang mencakup bidang musik, mulai dari pembibitan hingga dukungan pengakuan internasional. Kendati demikian, ia menegaskan bahwa skema kemitraan publik-swasta dan sponsor tetap diperlukan.
Giring Ganesha menambahkan, di era Spotify dan YouTube, musisi Indonesia berada pada arena yang sama dengan musisi dunia. Ia mengajak media dan masyarakat terus membagikan dan mendengarkan lagu Indonesia. Dukungan juga datang dari Konferensi Musik Indonesia yang akan membahas pemajuan musik nasional bersama pemangku kepentingan.
