JAKARTA, SMARTMAKASSAR.COM – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menekankan bahwa hasil penelitian harus berujung pada kebijakan dan tindakan nyata, bukan berhenti pada gagasan. Pembiayaan UMKM, keuangan syariah, dan keuangan berkelanjutan disebut sebagai agenda yang paling membutuhkan dukungan riset berkualitas.
Penegasan itu disampaikan Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi saat membuka The 4th OJK International Research Forum (IRF) 2026 di Jakarta, Senin (26/10/2026). Forum dua hari itu mengangkat tema “Transforming Finance for Resilient Growth: Building a Productive Financial Ecosystem for Indonesia’s Future”.
Forum mempertemukan akademisi, regulator, pemerintah, dan pelaku industri jasa keuangan. Jumlah pesertanya mencapai 425 orang secara luring dan 4.558 orang secara daring.
“Saya berharap diskusi selama dua hari ini tidak berhenti pada gagasan, tetapi menghasilkan masukan konkret yang dapat diterjemahkan menjadi kebijakan dan tindakan. OJK Institute akan merangkum hasilnya sebagai bahan kebijakan dalam agenda riset OJK,” kata Friderica.
Pertumbuhan Tak Bisa Hanya Bertumpu pada Perbankan
Friderica menyebut pendalaman pasar keuangan serta inovasi dan konektivitas digital sebagai fondasi untuk meningkatkan produktivitas dan mendukung pertumbuhan ekonomi. Menurutnya, pertumbuhan ekonomi nasional tidak bisa hanya mengandalkan perbankan. Pasar modal dan sektor jasa keuangan lainnya perlu berkontribusi memperluas sumber pembiayaan, termasuk bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Ia menyoroti tiga agenda strategis yang memerlukan kolaborasi regulator, industri, dan akademisi, yakni pengembangan keuangan syariah, pembiayaan UMKM, dan keuangan berkelanjutan.
“Fondasi yang menopang ketiga agenda tersebut adalah kepercayaan publik,” kata Friderica.
Friderica juga meminta akademisi menghasilkan penelitian yang relevan dengan tantangan nyata sektor jasa keuangan. Industri diharapkan berkontribusi lewat penyediaan data dan pemanfaatan hasil penelitian. OJK, kata dia, terbuka terhadap masukan untuk penyempurnaan kebijakan.
Riset untuk Membaca Risiko Inovasi Digital
Pada penutupan forum, Selasa (27/10/2026), Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya OJK Agusman menekankan bahwa penelitian tidak cukup hanya diakui secara akademis, tetapi harus memberi kontribusi nyata bagi sektor keuangan nasional.
“Nilai sejati sebuah penelitian tidak hanya terletak pada penghargaan yang diperoleh, tetapi juga pada gagasan yang dihasilkan dan dampak nyata yang diberikan bagi Indonesia,” kata Agusman.
Menurut Agusman, riset berbasis bukti diperlukan untuk mengidentifikasi risiko dari perkembangan inovasi keuangan digital. Riset juga dibutuhkan agar inovasi berjalan seiring dengan pelindungan konsumen dan stabilitas sektor keuangan.
Jurnal Keuangan Syariah Internasional Diluncurkan
Dalam forum tersebut, OJK meluncurkan International Journal of Islamic Financial System (IJIFS), jurnal ilmiah internasional yang berfokus pada sistem keuangan syariah. IJIFS melengkapi International Journal of Financial Systems (IJFS) yang telah terakreditasi Sinta 2. Agusman bertindak sebagai Editor in Chief kedua jurnal tersebut.
Karya Peneliti Muda Naik 42 Persen
OJK juga mengumumkan pemenang OJK Paper Award (KARISMA) 2026 bertema “Empowering MSMEs in the Digital Ecosystem to Accelerate Economies of Scale”. Ajang ini menerima 423 karya tulis ilmiah, naik 42 persen dari tahun sebelumnya dan tertinggi sejak KARISMA pertama digelar pada 2021.
Deputi Komisioner OJK Institute Anung Herlianto mengumumkan tiga karya terbaik:
- Juara I: Grace Bintang Debora Marpaung dan Arvian Taniar Effendi (Politeknik Keuangan Negara STAN), “Price Channel or Quantity Rationing? Interest-Rate Caps and MSME Credit Allocation in Indonesia’s Peer-to-Peer Lending: A Mixed-Methods Evaluation”.
- Juara II: Yohanes Eki Apriliawan dan Bayu Dwi Kurniawan (Badan Pusat Statistik dan Central South University, Tiongkok), “Bridging the Carbon-Finance Gap: Community Carbon Credit as a Potential Financial Inclusion Pathway for Rural Agricultural MSMEs in Indonesia”.
- Juara III: Saffanah Calista dan Schalke Anindya Putri (Universitas Gadjah Mada), “Beyond Access: Are Micro and Small Enterprises Receiving Subsidized Credit More Productive? Lessons Learned from Indonesia”.
Karya para pemenang akan didorong terbit di IJFS dan IJIFS setelah melalui penelaahan tim editorial.
