JENEWA, SMARTMAKASSAR.COM – Kota Makassar membawa inovasi penanganan banjir dan perubahan iklim berbasis teknologi hijau ke forum internasional Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, memaparkan pengalaman penerapan infrastruktur hijau melalui proyek Revitalising Informal Settlements and Their Environments (RISE) dalam United Nations Forum of Mayors 2026 di Jenewa, Swiss, pada 12–13 Oktober 2026.
Di hadapan para pemimpin kota dari berbagai negara, Munafri yang akrab disapa Appi menjelaskan bagaimana pendekatan berbasis alam dapat menjadi solusi untuk menjawab tantangan perkotaan, mulai dari persoalan sanitasi dan pengelolaan air hingga risiko banjir dan dampak perubahan iklim.
Menurut Appi, pertumbuhan penduduk dan pembangunan perkotaan yang semakin pesat menuntut pendekatan baru dalam mengatasi persoalan lingkungan. Pembangunan infrastruktur konvensional, kata dia, perlu diimbangi dengan pemanfaatan teknologi hijau yang disesuaikan dengan karakteristik wilayah dan kebutuhan masyarakat.
“Solusi teknologi hijau yang inovatif sangat krusial untuk mengatasi permasalahan perkotaan di seluruh dunia,” menjadi pesan utama yang disampaikan Appi dalam forum tersebut, Selasa (13/10/2026).
Ia menjelaskan, Makassar menghadapi tantangan lingkungan yang semakin kompleks seiring perkembangan kota. Banjir musiman, persoalan sanitasi, hingga peningkatan suhu lingkungan menjadi sejumlah isu yang membutuhkan penanganan secara terpadu.
Karena itu, Pemerintah Kota Makassar terus mendorong pendekatan pembangunan yang tidak hanya memenuhi kebutuhan dasar masyarakat, tetapi juga memperkuat ketahanan lingkungan terhadap dampak perubahan iklim.
“Melalui Proyek RISE, kami di Kota Makassar mengembangkan model penanganan lingkungan permukiman dengan mengintegrasikan teknologi pengolahan air limbah berbasis alam, lahan basah buatan, serta taman biofiltrasi,” ujar Appi.
Program tersebut dikembangkan melalui kolaborasi lintas negara bersama Monash University dari Australia, dengan melibatkan mitra lokal, termasuk Universitas Hasanuddin dan tim pelaksana di Makassar.
Menurut Appi, kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan mitra internasional menjadi faktor penting dalam menghadirkan inovasi yang efektif. Pengembangan teknologi, lanjutnya, harus mempertimbangkan kondisi lingkungan sekaligus kebutuhan masyarakat yang menjadi penerima manfaat.
Implementasi Proyek RISE telah menghadirkan infrastruktur hijau di lima lokasi di Makassar. Program ini dirancang untuk meningkatkan kualitas lingkungan permukiman melalui pengelolaan air dan limbah yang lebih berkelanjutan.
“Program ini turut mendukung peningkatan ketahanan terhadap banjir serta membantu menciptakan lingkungan yang lebih sejuk di sekitar kawasan permukiman di Kota Makassar,” papar Munafri.
Ia menilai, manfaat tersebut penting bagi kota yang menghadapi persoalan genangan, sanitasi, serta peningkatan suhu akibat tekanan pembangunan dan berkurangnya kualitas lingkungan perkotaan.
Pemerintah Kota Makassar pun berencana memperluas penerapan model serupa ke tujuh lokasi baru. Langkah ini diharapkan dapat memperbesar dampak program sekaligus memperluas akses masyarakat terhadap lingkungan permukiman yang lebih sehat dan tangguh.
“Langkah ini kami harapkan dapat memperluas manfaat infrastruktur hijau sekaligus memperkuat kapasitas masyarakat dalam menghadapi risiko perubahan iklim,” tegas Ketua Ikatan Alumni Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin (IKA FH Unhas) tersebut.
Bagi Makassar, RISE menjadi salah satu contoh pendekatan terpadu dalam menyelesaikan persoalan perkotaan. Melalui program ini, sanitasi, pengelolaan air limbah, pengurangan risiko banjir, dan peningkatan kualitas ruang hidup masyarakat ditangani dalam satu kerangka pembangunan yang saling mendukung.
Proyek tersebut juga mendapat pengakuan internasional setelah masuk dalam lima besar pemenang global WRI Ross Center Prize for Cities 2026 di New York, Amerika Serikat.
“Proyek ini juga memperoleh pengakuan internasional setelah masuk dalam lima pemenang global terbaik WRI Ross Center Prize for Cities 2026 di New York, Amerika Serikat,” ungkap Appi di hadapan delegasi internasional.
Pengakuan tersebut semakin memperkuat posisi RISE sebagai salah satu praktik inovasi perkotaan yang mendapat perhatian di tingkat global.
Dalam forum tersebut, Appi juga menyoroti pentingnya kemitraan lintas negara untuk mempercepat penerapan inovasi teknologi hijau di tingkat masyarakat.
Menurutnya, penelitian bersama dan penyesuaian teknologi dengan kondisi lokal merupakan bagian penting dalam memastikan program lingkungan dapat berjalan secara efektif dan memberikan manfaat jangka panjang.
Ia menegaskan, inovasi perkotaan tidak selalu harus dimulai melalui pembangunan teknologi berskala besar. Solusi berbasis alam yang dirancang sesuai kebutuhan kawasan juga dapat menjadi strategi untuk memperkuat ketahanan kota.
“Solusi berbasis alam yang dirancang sesuai kebutuhan kawasan dapat menjadi bagian dari strategi untuk membangun kota yang lebih tangguh,” katanya.
Appi menambahkan, pengalaman Makassar yang dibawa ke forum internasional tersebut menunjukkan pentingnya menghubungkan inovasi, kerja sama global, dan kebutuhan nyata masyarakat dalam pembangunan perkotaan.
Bagi Pemerintah Kota Makassar, pengembangan teknologi hijau bukan semata-mata upaya memperbaiki kualitas lingkungan. Lebih dari itu, pendekatan tersebut merupakan bagian dari strategi membangun kota yang adaptif terhadap perubahan iklim, tangguh menghadapi banjir, serta semakin layak huni.
United Nations Forum of Mayors 2026 yang berlangsung di lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa di Jenewa menjadi ruang bagi para pemimpin kota untuk bertukar pengalaman, membahas tantangan perkotaan, dan berbagi pendekatan pembangunan yang berkelanjutan.
Salah satu isu strategis yang dibahas dalam forum tersebut adalah kebijakan, program, dan investasi untuk menghadirkan transportasi umum serta mobilitas aktif yang aman, terjangkau, mudah diakses, dan berkelanjutan.
Pembahasan turut menyoroti kebutuhan kelompok masyarakat yang memerlukan aksesibilitas lebih baik, seperti perempuan, anak-anak, lanjut usia, penyandang disabilitas, masyarakat berpenghasilan rendah, serta warga yang tinggal di kawasan dengan keterbatasan layanan transportasi.
Para pemimpin kota juga didorong untuk membahas langkah konkret dalam meningkatkan keselamatan jalan melalui penyediaan infrastruktur yang lebih aman, pengendalian kecepatan kendaraan, serta integrasi aspek keselamatan dalam perencanaan transportasi.
Keikutsertaan Makassar dalam forum tersebut menjadi kesempatan untuk memperkenalkan pengalaman penanganan lingkungan perkotaan sekaligus memperluas pertukaran pengetahuan dengan kota-kota lain di dunia.
Melalui pengembangan RISE dan perluasan infrastruktur hijau, Pemerintah Kota Makassar berharap dapat memperkuat upaya membangun kota yang lebih berkelanjutan, adaptif terhadap perubahan iklim, dan memberikan kualitas hidup yang lebih baik bagi masyarakat.
