Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sulsel, Rizki Ernadi Wimanda
MAKASSAR, SMARTMAKASSAR.COM – Bank Indonesia (BI) mencatat pertumbuhan investasi di Sulawesi menguat pada triwulan II 2026, namun ekspor justru melambat tajam. Kondisi ini mendorong BI bersama Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan memperluas forum promosi investasi dan perdagangan menjadi Sulawesi Investment and Business Forum (SIBF) 2026, di Hotel Claro Makassar, 28–29 Oktober.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sulsel, Rizki Ernadi Wimanda, mengatakan perekonomian Sulawesi tumbuh 4,36 persen pada triwulan II. Pertumbuhan investasi naik dari 6,7 persen menjadi 8,1 persen, sedangkan pertumbuhan ekspor turun dari 8,3 persen menjadi 2,3 persen.
“Perkembangan ini menunjukkan pentingnya menjaga momentum investasi sekaligus memperluas akses pasar ekspor untuk memperkuat pertumbuhan ekonomi Sulawesi yang lebih tinggi dan berkelanjutan,” kata Rizki dalam sambutannya.
Menurut Rizki, empat sektor andalan Sulawesi adalah industri pengolahan, pertanian (termasuk tanaman pangan, perkebunan, dan perikanan), pertambangan, serta perdagangan. Tantangannya, potensi itu harus berubah menjadi investasi produktif yang memberi manfaat nyata bagi masyarakat.
SIBF 2026 melibatkan 350 peserta dari pemerintah pusat dan daerah, lembaga investasi dan pembiayaan, pemilik proyek, UMKM, hingga investor dan mitra dagang dalam dan luar negeri. Forum ini mempromosikan 43 proyek potensial yang mewakili seluruh provinsi di Sulawesi. Sebanyak 98 pertemuan satu lawan satu telah dijadwalkan dengan lebih dari 30 calon investor.
Di sisi perdagangan, pembinaan UMKM menjelang SIBF menghasilkan komitmen ekspor Rp450 miliar. Nilai itu berasal dari kemitraan 31 UMKM dengan 44 pembeli (buyer) dari 20 negara, yang berasal dari Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, dan Maluku Utara.
Tujuh UMKM juga memperoleh akses pasar melalui jaringan ritel modern.
Angka itu jauh di atas capaian tahun lalu. Pada penyelenggaraan sebelumnya, forum menghasilkan 24 komitmen investasi senilai potensi Rp8,55 triliun dan komitmen ekspor Rp228 miliar. Salah satu proyek yang dipromosikan, PLTB Tolo 2 di Kabupaten Jeneponto, kini telah memasuki proses tender dengan PT PLN (Persero).
Tahun ini cakupan forum diperluas dari Sulawesi Selatan ke seluruh Sulawesi, Maluku, dan Papua. BI juga menggandeng Direktorat Jenderal Perbendaharaan Kementerian Keuangan dan PT SMI untuk penyiapan proyek dan skema pembiayaan, termasuk kerja sama pemerintah dengan badan usaha (KPBU). Sementara itu, trading house dan jaringan ritel modern dilibatkan untuk membuka pasar UMKM.
Rizki menegaskan keberhasilan forum tidak diukur dari jumlah proyek yang dipromosikan, melainkan realisasi investasi dan keberlanjutan transaksi dagang. Penjajakan diharapkan menghasilkan letter of intent (LoI), nota kesepahaman (MoU), atau kerja sama strategis lainnya.
“SIBF bukan menjadi akhir dari proses promosi, melainkan langkah awal menuju realisasi yang memberikan kontribusi nyata bagi perekonomian Sulawesi,” ujarnya.
Dorong Hilirisasi
Staf Ahli Gubernur Sulsel Bidang Ekonomi Pembangunan dan Keuangan, Since Erna Lamba, menyebut forum ini merupakan rebranding South Sulawesi Investment Forum yang digabung dengan Anging Mammiri Business Fair. Ia menekankan pendekatan hilirisasi agar komoditas unggulan tidak dijual sebagai bahan mentah.
“Sulawesi Selatan bukan sekadar penonton, melainkan pemain kunci,” kata Since.
Ia memaparkan sejumlah capaian produksi Sulsel. Untuk perikanan tangkap, Sulsel berada di posisi ketiga nasional dengan produksi 512.484 ton dari potensi 1,1 juta ton. Sulsel juga produsen rumput laut nomor satu nasional dengan produksi 4,01 juta ton, serta penyumbang rajungan nasional sebesar 41,97 persen.
Di sektor perkebunan, Sulsel berada di urutan ketiga nasional untuk kakao dengan produksi sekitar 79,74 ribu ton, dan produksi kelapa sawit mencapai sekitar 105,9 ribu ton pada 2025.
Since mengajak pemerintah daerah, pemilik proyek, pelaku usaha, dan calon investor memanfaatkan forum melalui business matching, pameran proyek, diskusi strategis, dan kunjungan lapangan investasi.
Ia juga meminta UMKM Sulampua didorong agar masuk rantai nilai nasional dan global lewat peningkatan kualitas, standardisasi, kapasitas produksi, dan kontinuitas pasokan.
Untuk memperkuat konektivitas, Pemprov Sulsel mengalokasikan Rp3,7 triliun dalam program multiyears 2025–2027, termasuk penanganan sekitar 1.000 kilometer jalan.
