MAROS, SMARTMAKASSAR.COM – Kelompok peternak bebek petelur Laleng Kessi’e di Desa Baji Mangngai, Kecamatan Mandai, Kabupaten Maros, kini mampu memproduksi 120 butir telur per hari. Sebelumnya, produksi maksimal hanya 50 butir dari sekitar 70 ekor bebek milik pribadi. Lonjakan ini dirasakan setelah mereka menerima program Agrokompleks Hasanuddin, inisiatif tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL) PT Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi melalui Aviation Fuel Terminal (AFT) Hasanuddin sejak 2023.
Mariama, anggota kelompok, mengatakan sebelum ada program tersebut mereka hanya beternak seadanya dengan populasi kurang dari 100 ekor. “Karena adanya bantuan dari Pertamina, kita dibantu dengan jumlah bebek 250 ekor,” ujarnya saat ditemui awak media, Kamis (22/10/2026).
Bantuan Hulu ke Hilir
Dukungan yang diterima kelompok ini mencakup seluruh rantai usaha, mulai dari kandang, bibit bebek, pakan, hingga alat penetas dan oven pemanggang telur. Kelompok juga memperoleh pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dan kemasan karton premium.
Selain peralatan, Pertamina memberi pendampingan rutin. Menurut Mariama, ilmu beternak mereka bertambah, mulai dari takaran pakan dan pemberian vitamin hingga vaksinasi dan obat cacing. “Banyak yang kami tidak ketahui, akhirnya jadi tahu,” katanya.
Limbah MBG Jadi Pakan

Pakan sempat menjadi tantangan utama peternak. Pertamina kemudian menggandeng Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) setempat untuk memanfaatkan sisa makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai pakan bebek. Sisa makanan diambil dari lima titik di wilayah Sudiang dan Maros. Pengangkutannya difasilitasi Pertamina dengan menyewa kendaraan bersama Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).
“Kami hanya menerima saja,” kata Mariama. Pakan itu membuat bebek lebih gemuk dan masa jeda bertelur lebih singkat.
Telur Asin dan Penghasilan

Telur tidak hanya dijual mentah. Kelompok mengolahnya menjadi telur asin dalam dua varian, rebus dan panggang. Telur asin rebus dijual Rp3.000 per butir atau Rp10.000 untuk tiga butir. Varian panggang dikemas premium dan harganya lebih tinggi sehingga pemesannya masih terbatas. Pemasaran saat ini baru mencakup Makassar dan Maros, termasuk titipan di penjual telur pasar.
Omzet kelompok maksimal Rp5 juta hingga Rp6 juta per bulan dan tidak selalu stabil karena produksi naik turun. Hasilnya dibagi kepada anggota sesuai kesepakatan dan dipakai untuk biaya sekolah anak serta kebutuhan harian.
Energi Surya untuk Peternakan
Kawasan ini kini bernama Desa Energi Berdikari (DEB) Agrokompleks. Jr. Assistant II CSR & SMEPP Management Sulawesi, Yoga Pratama, menyebut PLTS berkapasitas 4,4 kilowatt itu melayani delapan kepala keluarga anggota kelompok. Listriknya menerangi kandang, jalan, dan rumah, sekaligus menjalankan oven pemanggang telur. Suami Mariama bahkan dibawa ke Jakarta untuk dilatih mengoperasikan PLTS tersebut.
Program Bertahap
Yoga menjelaskan, program dimulai dengan pemetaan sosial bersama akademisi di wilayah Ring 1 AFT Hasanuddin. Tahapannya yakni pembentukan kelompok pada 2023, pengembangan bibit dan peningkatan produksi pada 2024, penguatan kemasan pada 2025, dan pemanfaatan PLTS pada 2026. Pemasaran lebih luas ditargetkan pada 2027. Tahun ini juga direncanakan pelatihan pemasaran. Pertamina menyebut tujuan akhirnya adalah kemandirian ekonomi kelompok.
Tantangan dan Harapan
Kelompok masih menghadapi persoalan. Musim kemarau panjang membuat pasokan air terbatas sehingga warga mengandalkan satu sumur di dekat lokasi untuk minum bebek. Yoga menegaskan perbaikan jalan menjadi ranah pemerintah, sedangkan Pertamina fokus pada penguatan kelompok dan kapasitas produksi.
Mariama berharap dukungan tidak berhenti saat masa bantuan berakhir. “Harus masih dikontrol-kontrollah, tidak langsung dilepas begitu saja,” ujarnya. Ia juga berharap Pertamina membantu menembus pasar ritel atau swalayan.
