JAKARTA, SMARTMAKASSAR.COM —Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan optimisme industri perbankan nasional tetap terjaga pada triwulan III-2026, meski ketidakpastian ekonomi global dan domestik meningkat.
Hal ini tercermin dari Indeks Orientasi Bisnis Perbankan (IBP) yang berada di zona optimis dengan nilai 56.
Hasil tersebut merupakan temuan Survei Orientasi Bisnis Perbankan (SBPO) OJK triwulan III-2026 yang melibatkan 99 bank responden pada Juli 2026.
Bank-bank tersebut mewakili 97,91 persen dari total aset bank umum berdasarkan data Juni 2026.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, mengatakan hasil survei menunjukkan industri perbankan masih optimistis terhadap prospek kinerja dan memiliki keyakinan dalam mengelola risiko.
“Optimisme itu tercermin dari proyeksi pertumbuhan kinerja perbankan serta kemampuan bank menjaga risiko tetap terkendali, ” ujarnya dalam keterangan pers, Jumat kemarin.
Persepsi Risiko dan Ekspektasi Kinerja Sama-sama Positif
OJK mencatat Indeks Persepsi Risiko (IPR) berada di angka 57, juga masuk zona optimis. Mayoritas responden meyakini kualitas kredit tetap terjaga, Posisi Devisa Netto (PDN) berada di level rendah dengan posisi long, serta risiko likuiditas tetap aman.
Responden memperkirakan alat likuid perbankan dan Dana Pihak Ketiga (DPK) tetap tumbuh pada triwulan III-2026. Pertumbuhan DPK yang diproyeksikan lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan kredit turut mendorong peningkatan net cashflow perbankan.
Dari sisi kinerja, Indeks Ekspektasi Kinerja (IEK) tercatat lebih tinggi, yakni 83, menandakan optimisme yang kuat. Responden memperkirakan penyaluran kredit tetap tumbuh seiring meningkatnya permintaan kredit dan ekspansi melalui pipeline yang tersedia.
Sektor Industri Pengolahan, yang selama ini mendominasi penyaluran kredit perbankan, mencatat pertumbuhan kredit 16,85 persen secara tahunan (yoy) pada Juli 2026. Sektor ini diproyeksikan tetap menjadi salah satu penggerak utama pertumbuhan kredit ke depan.
Perbankan Waspadai Ketidakpastian Global
Meski optimistis, seluruh responden bank umum menunjukkan kewaspadaan tinggi terhadap perkembangan kondisi global yang berpotensi berlangsung lama (prolonged) dan bahkan berisiko memburuk lebih dalam. Ekspektasi terhadap kondisi makroekonomi pada triwulan III-2026 juga banyak dipengaruhi oleh prospek kenaikan inflasi dan suku bunga acuan global.
OJK menilai dinamika tersebut berpotensi berimplikasi signifikan terhadap prospek dan kinerja perekonomian nasional ke depan. Kendati demikian, indikator utama sektor jasa keuangan khususnya perbankan hingga saat ini masih menunjukkan kinerja dan ketahanan yang terjaga, tercermin dari pertumbuhan kredit yang tetap positif, permodalan yang kuat, serta likuiditas yang memadai.
OJK menekankan keberlanjutan kinerja perbankan ke depan memerlukan dukungan ekosistem ekonomi yang sehat, stabil, dan kondusif agar fungsi intermediasi perbankan dapat berjalan optimal dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.
