MAKASSAR, SMARTMAKASSAR.COM — Pembenahan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Tamangapa di Antang, Kecamatan Manggala, terus dikebut Pemerintah Kota Makassar. Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin alias Appi kembali turun langsung meninjau perkembangan penataan kawasan tersebut, Rabu (16/9/2026).
Didampingi Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Makassar Helmy Budiman, Appi bahkan naik hingga ke puncak area TPA untuk melihat langsung progres penataan kawasan dan perbaikan sistem pengelolaan sampah.
Dari area tersebut, perubahan kondisi TPA mulai terlihat. Kawasan yang sebelumnya dipenuhi tumpukan sampah dan identik dengan bau serta kondisi yang tidak tertata, kini perlahan mulai dibenahi.
Pembenahan tersebut merupakan bagian dari langkah Pemkot Makassar setelah menerapkan program pemilahan sampah dan penataan sistem pengelolaan TPA sejak Agustus 2026.
Appi mengatakan, penataan TPA Tamangapa dilakukan secara bertahap untuk mengubah pola pengelolaan dari sistem open dumping menuju sistem yang lebih terkendali.
“Pembenahan ini masih kita tingkatkan dari open dumping ke controlled landfill atau menuju sanitary landfill, sampah harus ditutup dengan tanah urug,” ujar Appi saat meninjau lokasi.
Salah satu proses yang terlihat dalam peninjauan tersebut yakni penutupan timbunan sampah menggunakan tanah urug atau tanah merah. Menurut Appi, langkah tersebut penting untuk membantu mengurangi bau sekaligus mengendalikan keberadaan hama di sekitar area timbunan.
“Di sini kelihatan proses menutupi penumpukan sampah. Ini masih dalam proses penutupan dan perbaikan,” katanya.
Selain pembenahan timbunan, pembangunan akses menuju TPA Tamangapa juga masih berlangsung. Pekerjaan saat ini memasuki tahap pembuatan tiang pancang untuk mendukung pembangunan akses jalan utama.
Pemkot Makassar juga menyiapkan sejumlah jalur akses menuju kawasan TPA. Selain akses utama dari sisi barat, tersedia jalur alternatif di sisi kanan kawasan serta akses melalui poros Samata dari sisi selatan TPA, di sekitar kawasan Bintang Lima.
Sejumlah akses tersebut diharapkan dapat menunjang mobilitas armada pengangkut sampah sekaligus mendukung penataan kawasan secara menyeluruh.
Appi menegaskan, pembenahan TPA bukan semata persoalan teknis maupun estetika kawasan. Menurutnya, pengelolaan sampah berkaitan langsung dengan kualitas lingkungan dan kehidupan masyarakat.
“Kita tidak hanya bicara tentang teknis, tapi kita bicara tentang kelas. Kita tidak mau mewariskan generasi kita soal kotornya kota, persoalan joroknya kota, persoalan kota yang tidak sehat,” terangnya.
Karena itu, Pemkot Makassar berkomitmen membangun kota yang bersih, sehat, dan tertata.
“Hari ini pemerintah kota berkomitmen bagaimana mewariskan kota yang bersih, kota yang sehat, kota yang indah,” kata Appi.
Ia menilai sampah yang tidak dikelola secara baik dapat menimbulkan berbagai persoalan lingkungan dan berdampak terhadap kehidupan masyarakat.
“Sampah ini menjadi sumber dari seluruh persoalan-persoalan hidup yang bisa berakibat fatal kalau kita tidak kelola dengan baik,” sambungnya.
Dalam peninjauan tersebut, Appi juga menjelaskan keberadaan sejumlah pipa yang terpasang di area timbunan sampah. Pipa tersebut berfungsi sebagai saluran untuk mengalirkan gas metana yang dihasilkan dari proses penguraian sampah.
“Kalau kita lihat pipa-pipa pembuangan ini adalah pipa-pipa untuk gas metan,” jelas Appi.
Menurutnya, keberadaan saluran tersebut penting untuk memberikan ruang ventilasi pada timbunan sampah. Gas yang terperangkap di dalam timbunan harus dialirkan melalui saluran yang telah disiapkan untuk mengurangi risiko keselamatan.
“Di dalam tanah ini ada tumpukan sampah, sehingga harus dibuka rongga untuk bernapas. Kalau tidak, bisa meledak. Nah, ini harus dibuka rongga,” ungkapnya.
Sistem ventilasi tersebut menjadi bagian dari upaya pengendalian gas metana di kawasan TPA. Gas metana yang terakumulasi tanpa pengelolaan dapat meningkatkan risiko kebakaran maupun ledakan.
Namun, di sisi lain, gas metana yang dihasilkan dari timbunan sampah memiliki potensi untuk dimanfaatkan sebagai sumber energi.
Pemkot Makassar telah menyiapkan proyek percontohan pemanfaatan gas metana di kawasan TPA Tamangapa. Program tersebut nantinya akan dikembangkan dengan membangun jaringan instalasi yang mampu menangkap dan menyalurkan gas secara lebih optimal.
Appi mengatakan, pemanfaatan gas metana dapat menjadi bagian dari sistem pengelolaan sampah yang lebih terintegrasi.
“Selain dibuka rongga, ini juga bisa dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai bahan bakar untuk memasak di rumah masing-masing,” tuturnya.
“Sudah ada proyek percontohan yang kita lakukan. Ke depan akan kita bangun secara masif untuk memastikan jaringan instalasi gas metan berfungsi dengan baik,” lanjut Appi.
Menurut Appi, pembenahan TPA Tamangapa harus berjalan beriringan dengan perubahan perilaku masyarakat dalam mengelola sampah sejak dari sumbernya.
Ia menegaskan penyelesaian persoalan sampah tidak cukup hanya dengan membangun infrastruktur atau memperbaiki kawasan TPA.
“Soal pengelolaan sampah itu harus menjadi tanggung jawab bersama,” tegasnya.
