MAKASSAR, SMARTMAKASSAR.COM – PT Pelindo Jasa Maritim (PJM) dan PT Asian Bulk Logistics (ABL) belum lama ini mengkaji pengembangan kapal tunda listrik (electric tug/e-tug) untuk menekan biaya operasional dan emisi karbon pada layanan penundaan kapal. Pelabuhan Tanjung Priok di Jakarta dan Tanjung Perak di Surabaya diproyeksikan menjadi lokasi percontohan tahap awal.
Lokakarya itu merupakan tindak lanjut kesepakatan kemitraan strategis kedua perusahaan. Pembahasan difokuskan pada kesiapan teknologi, kebutuhan operasional, kelayakan investasi, dan potensi komersialisasi layanan kapal tunda berbasis listrik.
Penggunaan e-tug diproyeksikan dapat menekan biaya operasional sekitar 20–40 persen dibandingkan kapal tunda konvensional. Tenaga listrik juga memungkinkan pengurangan emisi langsung dari pengoperasian kapal hingga 100 persen. Tingkat pengurangan emisi secara keseluruhan tetap bergantung pada sumber energi listrik yang digunakan.
Direktur Komersial PJM, Suhendra Ratuprawiranegara, mengatakan e-tug menjadi salah satu langkah strategis perusahaan untuk meningkatkan daya saing layanan maritim melalui teknologi yang lebih efisien dan ramah lingkungan.
“Pengembangan e-tug tidak hanya berorientasi pada penggunaan teknologi ramah lingkungan, tetapi juga pada peningkatan efisiensi dan keandalan layanan penundaan kapal. Karena itu, diperlukan kajian teknis, operasional, dan komersial yang komprehensif agar implementasinya memberikan manfaat nyata bagi perusahaan maupun pengguna jasa,” ujar Suhendra.
Menurut Suhendra, inisiatif ini sejalan dengan konsep pelabuhan hijau (green port) dan pelayaran hijau (green shipping). Langkah ini juga mendukung arah kebijakan Organisasi Maritim Internasional (IMO) untuk mencapai emisi gas rumah kaca nol bersih (net-zero emissions) dari pelayaran internasional sekitar tahun 2050. Potensi tersebut turut mendukung arah transformasi Danantara dalam mendorong industri hijau dan pengurangan emisi karbon di sektor kepelabuhanan dan maritim.
Pemilihan Tanjung Priok dan Tanjung Perak akan dikaji lebih lanjut dengan mempertimbangkan karakteristik pelayanan kapal, intensitas kegiatan penundaan, kebutuhan daya listrik, ketersediaan infrastruktur pengisian baterai, dan kesiapan operasional.
Suhendra menegaskan, potensi efisiensi tersebut harus didukung perencanaan investasi yang matang serta kesiapan infrastruktur dan teknologi. Dengan demikian, penerapan e-tug tetap menjamin keselamatan, keandalan, dan kelancaran pelayanan kapal.
“Prinsip utama kami adalah memastikan inovasi teknologi mampu memberikan nilai tambah bagi operasional dan pelanggan. Efisiensi biaya, keandalan layanan, dan keberlanjutan lingkungan harus berjalan beriringan,” tegasnya.
Hasil kajian bersama ini akan menjadi dasar bagi PJM dan ABL dalam menentukan model bisnis, skema investasi, dan tahapan implementasi e-tug. Kajian itu juga mencakup peluang pengembangan di wilayah operasional eksisting maupun pasar baru di dalam dan luar negeri.
