JAKARTA, SMARTMAKASSAR.COM — Tekanan ekonomi global dan persoalan struktural domestik menjadi tantangan besar bagi dunia usaha Indonesia. Menghadapi kondisi tersebut, Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) mendorong penguatan kebijakan ekonomi yang mampu menjaga daya tahan industri, investasi, dan lapangan kerja nasional.
APINDO menilai dunia usaha saat ini menghadapi tekanan dari berbagai sisi, mulai dari gejolak geopolitik, fragmentasi perdagangan global, pelemahan permintaan pasar, hingga meningkatnya biaya produksi dan logistik. Kondisi tersebut tercermin dari penurunan Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia yang berada di level 46,9 pada Juni 2026, menjadi posisi terendah dalam satu tahun terakhir.
Ketua Umum APINDO Shinta W. Kamdani mengatakan tekanan terhadap dunia usaha terjadi secara bersamaan sehingga mempersempit ruang perusahaan dalam menghadapi kenaikan biaya.
“Ketika seluruh tekanan ini datang bersamaan, perusahaan kehilangan ruang untuk menghadapi kenaikan biaya,” ujar Shinta dalam Konferensi Pers Pre-Rakerkonas XXXV APINDO di Jakarta.
Selain kondisi global, APINDO menyoroti sejumlah indikator domestik yang menunjukkan meningkatnya tantangan bisnis. Nilai tukar rupiah sempat bergerak di atas Rp18.000 per dolar AS, sementara biaya logistik nasional masih mencapai 14,29 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), lebih tinggi dibanding sejumlah negara kawasan.
Indeks Kepercayaan Industri (IKI) juga mengalami pelemahan dari 54,12 pada Januari 2026 menjadi 52,90 pada Juni 2026. Meski masih berada di zona ekspansi, tren tersebut menunjukkan adanya tekanan terhadap optimisme pelaku industri.
Menghadapi situasi tersebut, APINDO menekankan pentingnya kepastian kebijakan, percepatan penyelesaian hambatan usaha, serta penguatan kerja sama perdagangan internasional.
APINDO mendorong percepatan implementasi sejumlah perjanjian dagang seperti Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA), Indonesia-Canada CEPA (ICA-CEPA), dan Indonesia-Eurasian Economic Union Free Trade Agreement (I-EAEU FTA) untuk memperluas akses pasar dan meningkatkan daya saing ekspor Indonesia.
“Dunia usaha membutuhkan kepastian kebijakan, penyelesaian hambatan secara end-to-end, serta kolaborasi yang berorientasi pada implementasi solusi,” kata Shinta.
Rakerkonas APINDO ke-35 Jadi Forum Konsolidasi Ekonomi
Berbagai tantangan tersebut menjadi agenda utama dalam Rapat Kerja dan Konsultasi Nasional (Rakerkonas) APINDO ke-35 yang akan digelar di Makassar.
Forum tersebut menjadi ruang konsolidasi pengusaha dari 36 provinsi dan 368 kabupaten/kota untuk merumuskan rekomendasi kebijakan ekonomi yang akan disampaikan kepada Presiden Republik Indonesia.
Ketua DPP APINDO Sulawesi Selatan Suhardi menyebut pemilihan Makassar sebagai tuan rumah mempertegas peran Indonesia Timur sebagai kawasan strategis pertumbuhan ekonomi.
“Sulawesi Selatan dan Indonesia Timur memiliki potensi besar di sektor pangan, perikanan, energi, dan ekonomi maritim. Rakerkonas menjadi momentum mempertemukan potensi tersebut dengan investor,” ujar Suhardi.
APINDO memperkirakan sekitar 1.000 peserta dan tamu undangan akan menghadiri rangkaian kegiatan Rakerkonas, termasuk Business Investment Forum dan Expo yang mempertemukan pelaku usaha, pemerintah daerah, investor, serta perwakilan negara sahabat.
