KEPULAUAN SELAYAR, SMARTMAKASSAR.COM — Posisi geografis Kabupaten Kepulauan Selayar yang berada di jalur perlintasan laut internasional kembali menjadi sorotan.
Wilayah yang menghadap langsung ke Samudra Hindia itu dinilai memiliki nilai strategis tinggi, baik dari sisi sejarah pelayaran dunia maupun kepentingan pertahanan dan keamanan maritim Indonesia.
Perhatian terhadap Selayar menguat setelah adanya kunjungan jajaran pejabat tinggi TNI Angkatan Laut dan instansi terkait pada awal Mei 2026 untuk meninjau kesiapan pembangunan Pangkalan TNI AL (Lanal) Selayar.
Aktivis difabel dan penggiat isu inklusi asal Selayar, Abdul Rahman Daeng Gus Dur, menyebut pembangunan Lanal menjadi harapan besar masyarakat agar negara semakin hadir menjaga wilayah perairan selatan Indonesia.
Menurutnya, Selayar sejak dahulu dikenal sebagai kawasan penting dalam jalur pelayaran dunia. Bahkan, nama “Selayar” dipercaya berasal dari istilah “Si Layar” karena bentuk gugusan pulaunya menyerupai layar kapal raksasa di tengah samudra.
“Wilayah ini sejak dulu menjadi gerbang selatan Indonesia yang sangat strategis. Karena itu kami berharap pembangunan Lanal benar-benar terwujud dan bukan hanya menjadi wacana,” ujar Abdul Rahman Daeng Gus Dur, Jumat (22/5/2026).
Ia menjelaskan, sejumlah catatan sejarah semakin memperkuat posisi strategis Selayar. Pada 2004 lalu, ditemukan peninggalan keramik dan peralatan pelayaran kuno yang diyakini berasal dari kapal dagang Tiongkok abad ke-14. Selain itu, pada masa Perang Dunia II, wilayah Selayar juga pernah dijadikan basis pertahanan militer Jepang.
“Ini membuktikan bahwa sejak ratusan tahun lalu Selayar sudah menjadi titik penting jalur perdagangan dan penguasaan laut,” katanya.
Abdul Rahman juga menyoroti berbagai tantangan keamanan yang masih kerap terjadi di wilayah perairan Selayar. Salah satunya penemuan paket diduga kokain seberat 25,44 kilogram oleh nelayan di pesisir Selayar pada Ramadan 2026 lalu.
Selain itu, praktik ilegal seperti bom ikan dan penyelundupan juga dinilai masih menjadi ancaman serius.
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi alasan kuat perlunya kehadiran pangkalan TNI AL untuk memperkuat pengawasan laut sekaligus menjaga kedaulatan wilayah.
“Kami berharap jalur penyelundupan narkoba dan praktik perusakan laut bisa diberantas jika pengawasan diperkuat melalui kehadiran Lanal Selayar,” tegasnya.
Kunjungan peninjauan pembangunan Lanal Selayar dipimpin langsung Andi Abdul Azis selaku Komandan Komando Daerah Angkatan Laut VI Makassar. Kehadiran putra asli Selayar tersebut disebut membawa optimisme baru bagi masyarakat.
“Kami berharap Bapak Laksamana Muda Andi Abdul Azis dapat mengawal dan memastikan isu ini berjalan sampai tuntas dan terwujud nyata. Jangan sampai hanya menjadi wacana, seperti nasib pembangunan Kilang Minyak Selayar maupun Pelabuhan Pamatata yang belum berjalan maksimal,” ungkap Abdul Rahman.
Turut hadir dalam rombongan peninjauan antara lain Budi Santoso selaku Komandan Lantamal VI Makassar, pejabat Mabesal dan Kementerian Pertahanan, serta anggota Komisi I DPR RI Achmad Daeng Se’re.
Masyarakat berharap pembangunan Lanal Selayar tidak hanya memperkuat sistem pertahanan laut nasional, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi warga pesisir.
Kehadiran pangkalan TNI AL diyakini dapat mendorong pertumbuhan usaha masyarakat, membuka lapangan kerja, hingga mendukung pengembangan sektor pariwisata bahari di Kepulauan Selayar.
Dengan sejarah panjang, posisi strategis, dan jalur pelayaran yang menghubungkan Samudra Hindia dengan kawasan timur Indonesia, Selayar dinilai layak menjadi salah satu titik pertahanan maritim terpenting di kawasan selatan Nusantara.
