MAROS, SMARTMAKASSAR.COM – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada periode rawan mendorong pengelola Kebun Raya Pucak di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, memperkuat kesiapsiagaan bersama masyarakat sekitar kawasan. Pelatihan pencegahan karhutla digelar di kawasan konservasi tersebut belum lama ini.
Kegiatan dipandu Manggala Agni Daops I Sulawesi, dengan melibatkan Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Sulawesi Selatan, pengelola Kebun Raya Pucak, dan warga Desa Tompobulu. Sebanyak 15 pengelola UPT Kebun Raya Pucak dan 16 perwakilan masyarakat Desa Tompobulu mengikuti kegiatan tersebut.
Peserta mendapat materi tentang pencegahan kebakaran, kesiapsiagaan, deteksi dini, hingga langkah awal merespons potensi karhutla. Manggala Agni juga memaparkan faktor penyebab kebakaran serta pentingnya respons cepat ketika ditemukan indikasi api.
Sudarwanto dari Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Sulawesi, Seksi Wilayah I Makassar/Manggala Agni Daops I Sulawesi, menegaskan bahwa pencegahan menjadi langkah terpenting dalam penanganan karhutla. Menurutnya, warga yang bermukim di sekitar kawasan memegang peran strategis dalam mengenali ancaman sejak dini.
“Dengan pengetahuan dan kesiapsiagaan yang baik, potensi kebakaran dapat diketahui dan ditangani lebih awal sehingga dampaknya dapat diminimalkan,” kata Sudarwanto.
Pelibatan masyarakat diharapkan memperkuat pengawasan lingkungan di sekitar kawasan konservasi, sekaligus meningkatkan kesiapan menghadapi risiko kebakaran di masa rawan.
Selain materi karhutla, peserta diperkenalkan pada pemanfaatan bawang merah sebagai bahan dasar auksin alami atau zat pengatur tumbuh (ZPT). Bahan yang mudah diperoleh ini dikembangkan sebagai alternatif pendukung pertumbuhan tanaman, terutama untuk perbanyakan dan pemeliharaan koleksi tanaman di Kebun Raya Pucak. Warga juga dikenalkan pada potensi sumber daya lokal untuk perawatan tanaman dengan budidaya yang lebih ramah lingkungan.
Ketua UPT Kebun Raya Pucak, Thamrin, berharap kegiatan tersebut tidak berhenti pada sosialisasi dan pelatihan. Ia menginginkan gerakan bersama menjaga kawasan konservasi itu.
“Pengetahuan mengenai pencegahan kebakaran dan pemanfaatan auksin alami diharapkan dapat diterapkan secara berkelanjutan untuk mendukung pemeliharaan koleksi tanaman sekaligus meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap konservasi,” ujar Thamrin.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program Hutan Pertamina yang dijalankan Pertamina Patra Niaga Aviation Fuel Terminal (AFT) Hasanuddin. Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi, Lilik Hardiyanto, mengatakan keberlanjutan kawasan konservasi memerlukan kolaborasi yang konsisten antara perusahaan, pemerintah, tenaga teknis, dan masyarakat.
“Pencegahan karhutla menjadi langkah penting untuk melindungi keanekaragaman hayati,” ujar Lilik.
Program tersebut juga dikaitkan dengan sejumlah Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), yakni SDG 15 (ekosistem daratan), SDG 13 (penanganan perubahan iklim), SDG 4 (pendidikan berkualitas), dan SDG 17 (kemitraan untuk mencapai tujuan).
