MAKASSAR,SMARTMAKASSAR.COM — Minimnya ketersediaan uang Rupiah layak edar di wilayah kepulauan terpencil masih jadi persoalan yang belum tuntas di Sulawesi Selatan. Menjawab persoalan itu, Bank Indonesia (BI) bersama TNI Angkatan Laut (TNI AL) hari ini, Selasa (13/10/2026), resmi memberangkatkan Ekspedisi Rupiah Berdaulat (ERB) Sulawesi Selatan 2026 yang akan berlangsung hingga 19 Oktober mendatang.
Mengusung KRI Marlin-877, ekspedisi bertema “Bentang Lautan, Satukan Rupiah, Teguhkan Kedaulatan Negeri” ini menyasar lima pulau sekaligus: Badi, Gondong Bali, Liukang Loe, Bahuluang, dan Selayar. Sebanyak Rp25 miliar modal kerja dibawa oleh 15 Pejuang Rupiah BI yang berasal dari delapan wilayah kerja berbeda, mulai dari Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Balikpapan, Lampung, Sulawesi Barat, Sibolga, hingga Bangka Belitung.
Kepala Perwakilan BI Provinsi Sulawesi Selatan, Rizki Ernadi Wimanda, menegaskan langkah ini merupakan bentuk kepatuhan terhadap amanat undang-undang sekaligus respons atas kesenjangan akses layanan kas di wilayah kepulauan.
“Ketersediaan Rupiah di seluruh wilayah Indonesia merupakan bagian dari pelaksanaan amanat Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang. Lewat ERB, kami memperluas jangkauan layanan kas sekaligus mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya memperlakukan uang Rupiah dengan baik,” ujar Rizki saat pelepasan tim, Selasa.
Komandan Lantamal VI, Laksamana Muda TNI Andi Abdul Aziz, menyebut persoalan distribusi Rupiah di pulau-pulau terluar bukan sekadar isu ekonomi, melainkan menyangkut kedaulatan negara di titik-titik perbatasan yang rawan luput dari perhatian.
“Kolaborasi strategis antara Bank Indonesia dan TNI Angkatan Laut lewat Ekspedisi Rupiah Berdaulat adalah langkah nyata menjaga kedaulatan negara sekaligus memperkuat perekonomian di wilayah 3T. Beredarnya Rupiah di pulau-pulau perbatasan bukan sekadar alat transaksi ekonomi, melainkan simbol identitas bangsa dan bentuk nyata keutuhan wilayah NKRI,” kata Andi.
Senada, Wakil Gubernur Sulawesi Selatan Fatmawati Rusdi yang turut melepas keberangkatan tim menyoroti tantangan geografis yang kerap jadi alasan tertinggalnya pemerataan akses keuangan di wilayah kepulauan.
“Tantangan geografis tidak boleh menjadi penghalang bagi pembangunan yang inklusif dan pemerataan akses masyarakat terhadap Rupiah,” tegas Fatmawati.
Persoalan keterbatasan akses ini sebenarnya sudah coba diurai sejak 2012 melalui sinergi rutin BI dan TNI AL. Hingga tahun ini, tercatat 150 kali kegiatan kas keliling 3T telah dilakukan dengan jangkauan 766 pulau. Namun skala persoalan masih besar — tahun ini saja BI menargetkan 23 kegiatan ERB (19 ERB Nasional dan 4 ERB Mandiri) untuk menjangkau 115 pulau di wilayah 3T.
Di luar penukaran uang, tim ERB Sulsel 2026 turut menyisipkan agenda penanganan masalah sosial lain yang kerap menyertai wilayah terpencil, yakni layanan kesehatan gratis, sunatan gratis, pembagian sembako, hingga pembagian susu sebagai bagian dari pencegahan stunting. Rangkaian ekspedisi juga diisi Vespa Jelajah Rupiah pada 13–14 Oktober di Desa Kulo, Sidenreng Rappang, serta akan ditutup dengan Festival Ambaiang pada 17–18 Oktober di Kepulauan Selayar sebagai upaya menyelamatkan tradisi lokal yang mulai terancam punah.
