MAKASSAR, SMARTMAKASSAR.COM – Pengembangan wisata bahari di Kota Makassar mulai diarahkan ke wilayah kepulauan terluar. Salah satunya melalui rencana pembangunan dermaga wisata di Pulau Lanjukang, Kecamatan Kepulauan Sangkarrang, yang disiapkan sebagai akses utama untuk menunjang kunjungan wisatawan.
Pembangunan infrastruktur tersebut diharapkan menjadi pintu masuk pengembangan destinasi wisata bahari sekaligus membuka konektivitas antarpulau di Kota Makassar.
Rencana ini menjadi bagian dari upaya Pemerintah Kota (Pemkot) Makassar melalui Dinas Pariwisata (Dispar) dalam mengoptimalkan potensi wisata pulau-pulau kecil, khususnya Pulau Lanjukang yang memiliki panorama alam dan kekayaan ekosistem laut.
Kepastian rencana pembangunan dermaga semakin terbuka setelah Pemkot Makassar memperoleh Konfirmasi Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang Laut (KKPRL) dari Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia.
Kepala Dinas Pariwisata Kota Makassar, Achmad Hendra Hakamuddin, mengatakan persetujuan tersebut tertuang dalam dokumen Nomor R.0142/MEN-KP/PKKPRL-P/X/2026 yang ditujukan kepada Pemerintah Kota Makassar dan berlaku sejak 14 Oktober 2026.
“Alhamdulillah, persetujuan pembangunan dermaga di Pulau Lanjukang Kota Makassar sudah tertuang dalam dokumen tersebut,” ujar Hendra, Rabu (4/11/2026).
Menurutnya, konfirmasi kesesuaian pemanfaatan ruang laut tersebut merupakan salah satu tahapan penting untuk melanjutkan proses perizinan pembangunan dermaga wisata di kawasan Pulau Lanjukang.
Hendra menjelaskan, pihaknya telah menyiapkan perencanaan pengembangan pulau-pulau di Makassar dengan konsep destinasi wisata yang mengedepankan potensi ekonomi, budaya, serta kelestarian lingkungan.
Pulau Lanjukang menjadi salah satu kawasan yang diprioritaskan karena memiliki posisi strategis sebagai pulau terluar Kota Makassar dengan panorama bahari yang berpotensi dikembangkan menjadi destinasi wisata unggulan.
“Pulau Lanjukang merupakan salah satu destinasi wisata bahari yang sangat menarik,” tutur mantan Kadispora Makassar itu.
Ia menilai, keberadaan fasilitas dasar menjadi kebutuhan mendesak untuk menunjang aktivitas wisata di pulau tersebut.
“Sebagai salah satu pulau terluar di Kota Makassar, kami melihat perlu ada intervensi pemerintah, terutama penyediaan fasilitas dasar untuk mendukung kunjungan wisata,” lanjutnya.
Salah satu fasilitas utama yang akan dibangun adalah dermaga representatif. Selama ini, Pulau Lanjukang belum memiliki tempat bersandar kapal yang memadai bagi wisatawan maupun kapal wisata.
Melalui pembangunan tersebut, akses transportasi laut diharapkan semakin mudah, termasuk memberikan kesempatan bagi kapal wisata berukuran besar seperti kapal pinisi untuk bersandar.
Terkait desain, Hendra menyebutkan bahwa konsep dermaga masih dalam tahap finalisasi. Namun, pembangunan nantinya akan mengusung karakter dan identitas lokal yang mencerminkan kekhasan Pulau Lanjukang.
Salah satu gagasan desain yang tengah dipertimbangkan terinspirasi dari biota laut yang dekat dengan kehidupan masyarakat setempat, seperti gurita atau cumi-cumi.
Konsep tersebut diharapkan tidak hanya menghadirkan fungsi infrastruktur, tetapi juga menjadi daya tarik tersendiri yang merepresentasikan identitas Pulau Lanjukang sebagai kawasan wisata bahari.
Meski demikian, Hendra menegaskan bahwa pembangunan dermaga harus tetap memperhatikan kondisi ekologis kawasan. Terlebih, sebagian besar wilayah Pulau Lanjukang berada dalam kawasan konservasi.
Karena itu, ukuran dan kapasitas dermaga akan disesuaikan dengan kebutuhan serta daya dukung lingkungan agar pembangunan tidak mengganggu kelestarian ekosistem laut.
“Kita harus memperhatikan bahwa sebagian besar wilayah Pulau Lanjukang merupakan kawasan konservasi. Karena itu, ukuran dermaga tidak boleh terlalu besar, tetapi harus disesuaikan dengan kebutuhan dan daya dukung lingkungan,” jelasnya.
Selain mengandalkan panorama alam, Pulau Lanjukang juga memiliki sejumlah potensi wisata yang dapat dikembangkan, mulai dari snorkeling, diving, wisata edukasi kelautan hingga kegiatan konservasi terumbu karang yang melibatkan masyarakat dan pengunjung.
Melalui konsep tersebut, wisatawan diharapkan tidak hanya menikmati keindahan bawah laut, tetapi juga memperoleh pengalaman edukasi mengenai pentingnya menjaga kelestarian lingkungan pesisir dan pulau-pulau kecil.
Pengembangan kawasan juga akan diarahkan pada penyediaan berbagai fasilitas pendukung wisata. Di antaranya sarana air bersih, toilet, musala, listrik ramah lingkungan hingga area berkemah.
Saat ini, Dinas Pariwisata Kota Makassar tengah melengkapi dokumen administrasi sebagai persiapan memasuki tahapan pengadaan melalui mekanisme tender cepat.
Setelah seluruh dokumen rampung, pihaknya akan melakukan asistensi untuk mendapatkan arahan terkait proses pengadaan agar tahapan pembangunan dapat segera berjalan.
“Dokumen-dokumennya sedang kami lengkapi. Setelah itu akan dilakukan asistensi untuk mendapatkan arahan agar proses tender cepat bisa segera berjalan,” ungkap Hendra.
Ia optimistis seluruh tahapan administrasi dan pengadaan dapat diselesaikan sesuai rencana sehingga pembangunan fisik dermaga bisa mulai direalisasikan pada awal 2027.
Lebih jauh, pembangunan dermaga di Pulau Lanjukang diharapkan menjadi langkah awal dalam membangun konektivitas wisata antarpulau di Kota Makassar.
Dengan demikian, pengembangan pariwisata tidak hanya terpusat pada satu destinasi, tetapi dapat diperluas secara bertahap dengan menghubungkan berbagai pulau yang memiliki karakteristik dan daya tarik masing-masing.
“Kami berharap dengan pembangunan di Pulau Lanjukang, nantinya bisa terbentuk interkoneksi wisata dengan pulau-pulau lainnya. Jadi, bukan hanya Lanjukang yang dikembangkan, tetapi juga destinasi kepulauan lain di Kota Makassar,” tutupnya.
