MAKASSAR, SMARTMAKASSAR.COM — Kebiasaan memilah dan mengelola sampah sejak usia sekolah mulai diperkuat Pemerintah Kota Makassar melalui kolaborasi antara satuan pendidikan dan bank sampah. Program ini diarahkan tidak hanya untuk mengurangi timbulan sampah, tetapi juga membentuk perilaku peduli lingkungan sejak dini.
Penguatan tersebut ditandai dengan penandatanganan kerja sama bank sampah dengan satuan pendidikan dalam kegiatan Asesmen Kepala Sekolah SD dan SMP sekaligus Penandatanganan MoU Bank Sampah pada Satuan Pendidikan Kota Makassar di Hotel Claro Makassar, Senin (21/9/2026).
Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin alias Appi mengatakan kerja sama tersebut akan diterapkan secara teknis oleh Dinas Pendidikan bersama Dinas Lingkungan Hidup (DLH) melalui pengelolaan sampah di lingkungan sekolah.
Sampah nonorganik yang dikumpulkan di sekolah nantinya terhubung dengan bank sampah untuk dipilah dan memiliki nilai ekonomi. Hasil penjualan sampah tersebut dapat dimanfaatkan untuk mendukung kebutuhan sekolah.
“Karena, untuk sampah-sampah anorganik ini yang akan terhubung dengan bank sampah, hasilnya bisa dijual. Hasil penjualannya bisa dipakai untuk sekolah,” kata Appi.
Menurutnya, inti program tersebut bukan semata-mata mengurangi sampah, tetapi membangun kebiasaan baru melalui pendidikan yang dimulai sejak dini.
Appi meminta setiap sekolah menyediakan tempat sampah berdasarkan jenisnya, yakni organik, anorganik, dan residu. Peserta didik juga perlu dibiasakan memilah sampah dalam aktivitas sehari-hari.
“Perlu edukasi siswa sejak dini, artinya setiap pagi semua anak-anak ini dibiasakan membawa sampah dari rumah, atau di jalan. Semua anak murid ini harus mampu menyimpan sampah-sampah sesuai dengan jenisnya,” ujarnya.
Ia mencontohkan sampah organik seperti kulit buah ditempatkan pada wadah organik, sedangkan botol minuman kemasan dimasukkan ke tempat sampah anorganik. Sampah residu juga harus ditempatkan sesuai kategorinya.
Menurut Appi, kebiasaan tersebut lebih mudah dibentuk ketika anak berada di lingkungan sekolah. Jika dilakukan secara konsisten selama bertahun-tahun, perilaku memilah sampah diharapkan terbawa hingga mereka berada di tengah masyarakat.
“Kalau anak-anak ini sudah dididik dari sekolah, insya Allah dalam kehidupan sehari-harinya ini akan berjalan dan menular dengan baik,” katanya.
Appi juga melihat peserta didik dapat menjadi agen perubahan di lingkungan keluarga. Pengetahuan mengenai pengelolaan sampah yang diperoleh di sekolah diharapkan diterapkan di rumah dan turut mengajak orang tua membangun kebiasaan memilah sampah.
“Kalau anak-anak SD selama enam tahun melakukan ini, ini akan menjadi kebiasaannya. Anak SMP selama tiga tahun akan begitu. Sehingga pada saat mereka kembali ke masyarakat, perilaku inilah yang akan mereka bawa,” tegasnya.
Tidak hanya pemilahan sampah organik dan anorganik, Appi juga mendorong sekolah mengembangkan metode pengolahan sampah sesuai kondisi masing-masing.
Pengolahan sampah organik dapat dilakukan melalui biopori, teba, eco-enzyme, maupun metode lain yang menghasilkan produk bermanfaat. Hasil pengolahan tersebut selanjutnya dapat diarahkan untuk mendukung pengembangan urban farming di lingkungan sekolah.
“Nah, ini nanti akan dipakai untuk membuat yang namanya urban farming di sekolah,” ujarnya.
Menurut Appi, pengembangan tersebut nantinya dapat melibatkan sejumlah perangkat daerah sehingga pengelolaan lingkungan terintegrasi dengan pengembangan pangan dan ekonomi.
Ia mendorong setiap sekolah menghasilkan inovasi yang berbeda dan tidak sekadar menerapkan pola urban farming yang sama.
“Kalau di sekolah ini jangan berpikir yang biasa-biasa saja. Ada banyak hal yang bisa dikembangkan di sekolah yang berbeda,” tuturnya.
Konsep tersebut, kata Appi, berpotensi menjadi stimulus bagi terbentuknya aktivitas ekonomi baru berbasis lingkungan di satuan pendidikan.
Ia pun meminta kepala sekolah mengambil peran dalam memastikan program berjalan secara konsisten, termasuk membangun kebiasaan memilah sampah setiap hari.
Appi menegaskan penguatan pengelolaan sampah di sekolah merupakan bagian dari upaya membenahi rantai pengelolaan sampah di Kota Makassar.
Menurutnya, pembenahan harus dimulai dari sumber sampah, termasuk rumah tangga dan sekolah, sebelum sampah dibawa ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Tamangapa.
“Ini kita lakukan karena sudah memulai membenahi tempat yang paling jorok dalam sebuah rantai perputaran sampah di Kota Makassar,” katanya.
Ia mengatakan pembenahan TPA Tamangapa terus dilakukan agar tidak lagi menerima seluruh jenis sampah yang berasal dari rumah tangga. Sampah yang masuk diharapkan telah melalui proses pemilahan dan pengelolaan sejak dari sumbernya.
Pemkot Makassar juga membuka peluang agar pengelolaan sampah organik di sekolah melibatkan masyarakat sekitar. Sampah organik dari rumah warga maupun daun yang dikumpulkan petugas kebersihan dapat diarahkan untuk mendukung proses pengolahan organik.
Dengan demikian, kerja sama sekolah dan bank sampah diharapkan berkembang menjadi ekosistem pengelolaan lingkungan yang melibatkan sekolah, keluarga, masyarakat, dunia usaha, dan pemerintah.
“Ini kegiatan-kegiatan yang bertujuan benar-benar untuk membawa anak-anak kita ke dalam sebuah perilaku yang baru,” pungkas Appi.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Kota Makassar Achi Soleman mengatakan kegiatan tersebut diikuti 464 peserta yang terdiri atas 314 kepala sekolah SD negeri, 55 kepala sekolah SMP negeri, dan 95 kepala sekolah SMP swasta.
Selain asesmen kepala sekolah, kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat inovasi lingkungan di satuan pendidikan. Saat ini terdapat 86 inovasi yang telah dicanangkan berkaitan dengan lingkungan pada jenjang SD dan SMP di Kota Makassar.
“Melalui penandatanganan kerja sama ini, kami berharap terbangun komitmen bersama antara bank sampah dengan sekolah, di mana sekolah menjadi tempat tumbuhnya budaya peduli lingkungan,” kata Achi.
Ia menjelaskan, komitmen tersebut sejalan dengan capaian sekolah-sekolah di Kota Makassar dalam program Adiwiyata.
Berdasarkan data Dinas Pendidikan Kota Makassar, sebanyak 320 sekolah telah meraih predikat Adiwiyata. Rinciannya, 203 sekolah berstatus Adiwiyata Kota, 83 sekolah Adiwiyata Provinsi, 25 sekolah Adiwiyata Nasional, dan 9 sekolah Adiwiyata Mandiri.
Achi mengatakan kerja sama antara sekolah dan bank sampah diarahkan untuk membangun kebiasaan pengelolaan sampah sejak dini.
Kolaborasi tersebut antara lain bertujuan membangun sinergi antara sekolah dan bank sampah, meningkatkan kesadaran warga sekolah terhadap kebersihan dan kelestarian lingkungan, serta membiasakan peserta didik memilah sampah sejak dini.
Selain itu, program tersebut diharapkan dapat mengurangi volume sampah yang dibuang ke TPA sekaligus mendorong penerapan ekonomi sirkular melalui pemanfaatan dan pengelolaan sampah.
“Harapannya dapat mewujudkan lingkungan sekolah yang bersih, sehat, nyaman, dan berkelanjutan,” harapnya.
Achi berharap sinergi antara sekolah, bank sampah, Dinas Lingkungan Hidup, Dewan Lingkungan, dan berbagai pihak lainnya terus diperkuat sehingga gerakan peduli lingkungan menjadi bagian dari kehidupan di satuan pendidikan.
“Kami berharap kerja sama ini menjadi langkah nyata untuk membangun sekolah yang bersih, sehat, peduli lingkungan, sekaligus mendidik generasi yang bertanggung jawab terhadap keberlanjutan lingkungan,” tutup Achi.
Hadir dalam kegiatan tersebut Ketua Dewan Lingkungan Hidup Kota Makassar Melinda Aksa, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Helmy Budiman, Kepala Dinas Pendidikan Kota Makassar Achi Soleman, serta perwakilan pengelola Bank Sampah Umum (BSU).
