MAKASSAR, SMARTMAKASSAR.COM — Di tengah percepatan transisi energi global dan dorongan pemerintah dalam penguatan hilirisasi industri mineral, PT Vale Indonesia Tbk (PTVI) menegaskan komitmennya untuk membangun rantai nilai tambah berbasis keberlanjutan. Melalui serangkaian investasi strategis Indonesia Growth Project (IGP) dan pengelolaan lingkungan terpadu, PT Vale mentransformasi praktik pertambangan nikel menjadi ekosistem industri hijau yang memberi dampak positif secara ekonomi maupun sosial.
Langkah ini selaras dengan upaya nasional dalam menguatkan hilirisasi mineral bernilai tambah tinggi sekaligus menjaga daya dukung lingkungan secara konsisten.
Head of External Relations Regional & Growth PT Vale Indonesia Tbk, Endra Kusuma, menyampaikan bahwa keberlanjutan bukan sekadar agenda pendamping, melainkan inti dari strategi ekspansi dan operasional bisnis perusahaan.
”PT Vale memastikan keberlanjutan melekat dalam setiap proses pengambilan keputusan strategis. Melalui proyek ekosistem IGP serta optimalisasi sumber daya mineral secara efisien, kami tidak hanya mengejar pertumbuhan produksi, tetapi juga memastikan hadirnya nilai tambah yang konkret, inklusif, dan ramah lingkungan bagi Indonesia,” ujar Endra Kusuma.
Inovasi HPAL dan Pengolahan Limonit
Salah satu bukti konkret penciptaan nilai tambah bernilai tinggi ditunjukkan melalui proyek Sorowako Limonite Ore (Sorlim) di Sulawesi Selatan. Dalam proyek brownfield ini, PT Vale memanfaatkan kembali bijih nikel limonit kadar rendah—yang sebelumnya dikategorikan sebagai lapisan tanah penutup (overburden) dan tidak terpakai—menjadi produk Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) bernilai tinggi menggunakan teknologi High-Pressure Acid Leaching (HPAL).
Inovasi teknologi HPAL ini memungkinkan optimalisasi cadangan mineral tanpa harus membuka lahan baru secara agresif. Selain di Sorowako, ekspansi teknologi serupa diterapkan pada mega proyek IGP Pomalaa di Sulawesi Tenggara dengan nilai investasi mencapai US$ 4,5 miliar untuk menghasilkan 120.000 ton nikel dan 15.000 ton kobalt dalam bentuk MHP per tahun, serta IGP Morowali di Sulawesi Tengah senilai US$ 2,0 miliar yang dirancang berbasis net zero operation.
Kinerja Operasional dan Transisi Hijau
Berdasarkan lembar fakta kinerja perusahaan (Factsheet 2026), PT Vale mencatatkan tren pertumbuhan produksi bijih nikel yang solid, meningkat dari 13,45 juta ton pada 2023 menjadi 15,91 juta ton pada 2025. Di sisi keuangan, perusahaan membukukan pendapatan sebesar US$ 990,19 juta dengan laba bersih mencapai US$ 76,06 juta serta total aset yang tumbuh menjadi US$ 3,34 miliar pada 2025.
Ekspansi bisnis tersebut diimbangi dengan kepatuhan lingkungan yang ketat. Di Blok Sorowako, PT Vale mengoperasikan teknologi Lamella Gravity Settler (LGS) untuk mengolah air limbah operasional dan mereduksi polutan seperti TSS dan Cr6+ sebelum dialirkan kembali ke Danau Matano. Sementara untuk kebutuhan energi operasional, perusahaan mengandalkan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) di Sungai Larona guna menekan emisi karbon secara signifikan.
Pemberdayaan Masyarakat dan Konservasi Kehati
Komitmen keberlanjutan PT Vale juga menyasar pada penguatan ekonomi warga sekitar dan perlindungan keanekaragaman hayati. Lewat program Agrowisata Nanas Desa Tabarano di Luwu Timur, PT Vale mengalihfungsikan 5 hektare lahan tidur rentan bencana menjadi kawasan pertanian produktif dengan 26.000 bibit nanas ramah lingkungan, yang berhasil meraih penghargaan Subroto Award dari Kementerian ESDM.
Selain itu, perusahaan mengukuhkan penetapan Taman Keanekaragaman Hayati (KEHATI) Sawerigading Wallacea seluas 71,8 hektare sebagai pusat konservasi flora-fauna endemik serta pengelolaan fasilitas nursery berkapasitas hingga jutaan bibit pohon per tahun di wilayah operasionalnya.
Melalui integrasi antara efisiensi energi, teknologi pengolahan canggih, pemanfaatan limbah tambang, serta kemitraan masyarakat lokal, PT Vale menegaskan posisinya sebagai pelopor pertambangan berkelanjutan di Indonesia.
