MAKASSAR, SMARTMAKASSAR.COM — Menjelang peringatan Hari Jadi ke-419, Pemerintah Kota Makassar kembali membuka ruang bagi para desainer grafis lokal untuk menuangkan gagasan kreatif dalam bentuk logo dan identitas visual Kota Makassar.
Melalui Dinas Pariwisata, Pemkot Makassar menggandeng Asosiasi Desainer Grafis Indonesia (ADGI) Chapter Makassar untuk menggelar sayembara desain logo dan identitas visual Hari Jadi ke-419 Kota Makassar.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program ADGI Hub sekaligus menjadi wadah partisipasi bagi desainer grafis lokal dalam menerjemahkan semangat, karakter, sejarah, hingga arah masa depan Kota Makassar ke dalam sebuah identitas visual.
Kepala Dinas Pariwisata Kota Makassar, Ahmad Hendra Hakamuddin, mengatakan sayembara tersebut kembali digelar setelah pelaksanaan perdana pada tahun sebelumnya mendapat respons positif dari masyarakat maupun pelaku industri kreatif.
Menurut Hendra, proses perancangan identitas visual Hari Jadi Kota Makassar tahun ini diharapkan menghasilkan konsep yang memiliki landasan konseptual kuat, relevan dengan karakter Makassar, mudah diaplikasikan, serta mampu membangun identitas yang konsisten di berbagai media komunikasi.
“Menyambut HUT Kota Makassar, kita melakukan sayembara seperti tahun lalu, bekerja sama dengan ADGI Chapter Makassar sebagai wadah mereka untuk mengumpulkan ide-ide gagasan berkaitan dengan Hari Ulang Tahun Kota Makassar,” ujarnya.
Hal tersebut disampaikan Hendra usai melakukan audiensi dengan Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, di Kantor Balai Kota Makassar, Kamis (3/9/2026).
Ia menjelaskan, tema Hari Jadi Kota Makassar tahun ini telah diajukan kepada Wali Kota Makassar. Tema tersebut nantinya menjadi landasan bagi para peserta dalam merancang logo dan identitas visual.
“Untuk tema, sudah kita ajukan ke Pak Wali. Nanti berdasarkan tema tersebut, itu akan dijadikan logo,” katanya.
Hendra menegaskan, kolaborasi dengan ADGI membuat proses sayembara tidak hanya menjadi kompetisi desain. Para peserta nantinya akan melalui tahapan kuratorial agar konsep yang dihasilkan dapat dikembangkan secara lebih maksimal.
“Kita ingin melihat bagaimana desainer menerjemahkan identitas Makassar bukan hanya dari sisi simbol, tetapi juga dari kekayaan sejarah, energi masyarakatnya, dan visi Pemerintah Kota Makassar,” tuturnya.
Ia menilai kolaborasi antara pemerintah, komunitas kreatif, dan profesi desain dapat memperkaya perspektif dalam membangun citra Makassar sebagai kota tujuan pariwisata sekaligus pusat kreativitas di Indonesia Timur.
“Kami berharap identitas visual Hari Jadi ke-419 Kota Makassar nantinya tidak hanya menjadi simbol perayaan, tetapi mampu merepresentasikan kondisi Makassar saat ini dan visi kota yang hendak diwujudkan ke depan,” harapnya.
Sekretaris ADGI Chapter Makassar, Andi Weri, mengatakan mekanisme sayembara tahun ini berbeda dengan sayembara desain pada umumnya.
Peserta terlebih dahulu diwajibkan mengirimkan portofolio untuk mengikuti proses seleksi. Dari seluruh portofolio yang masuk, ADGI akan memilih sekitar tiga hingga lima peserta atau tim untuk mengikuti tahapan kuratorial dan pengembangan desain.
“Kalau sayembara pada umumnya, sembarang orang bisa mengirimkan desain,” katanya.
“Kalau yang ini tidak. Mereka mengirimkan portofolio dulu. Yang lolos seleksi akan masuk final dan lanjut proses perancangan,” sambungnya.
Menurut Andi, peserta yang ingin mengikuti open call harus memenuhi sejumlah persyaratan. Salah satunya memiliki KTP Makassar dan/atau berdomisili di Kota Makassar.
Peserta dari luar daerah tetap diperbolehkan mengikuti proses tersebut sepanjang dapat membuktikan domisilinya di Makassar, misalnya melalui surat keterangan domisili.
Selain itu, peserta minimal memiliki pengalaman dua tahun sebagai profesional graphic designer serta mempunyai portofolio yang menjadi bahan penilaian awal.
“Minimal pengalaman dua tahun sebagai profesional graphic designer dan memiliki portofolio,” jelasnya.
Untuk peserta yang mendaftar dalam bentuk tim, jumlah anggota minimal tiga orang. Ketentuan tersebut disesuaikan dengan cakupan pekerjaan perancangan identitas visual yang dinilai cukup luas dan tidak ideal dikerjakan seorang diri.
“Proses perancangan ini tidak mungkin dikerjakan oleh satu orang karena cakupannya luas dan yang mau dibuat banyak,” ujarnya.
“Kalau tidak punya studio desain, boleh individu tetapi memanggil dua atau tiga orang untuk menjadi timnya,” lanjutnya.
Andi menegaskan, mahasiswa maupun peserta yang sudah tidak berstatus mahasiswa tetap diperbolehkan mengikuti proses tersebut selama memenuhi seluruh persyaratan yang telah ditentukan.
Open call sayembara telah dibuka sejak 27 Agustus 2026 dan akan ditutup pada 5 September 2026.
Selanjutnya, pengumuman peserta yang lolos seleksi dijadwalkan pada 6 September, kemudian dilanjutkan dengan briefing awal pada 7 September.
Dalam briefing tersebut, peserta akan mendapatkan pengarahan serta materi mengenai budaya Makassar sebagai bekal dalam mengembangkan konsep desain.
Peserta terpilih kemudian akan menjalani proses kuratorial selama kurang lebih satu bulan.
“Hasil rancangan nantinya akan dipresentasikan di hadapan Wali Kota Makassar dan Kepala Dinas Pariwisata pada 9 Oktober 2026,” jelas Andi.
Ia mengatakan proses kuratorial akan mempertimbangkan sejumlah aspek, mulai dari estetika, distingsi atau keunikan konsep, hingga kemampuan desain untuk diaplikasikan pada berbagai kebutuhan komunikasi.
Setelah seluruh proses kuratorial selesai, hasil rancangan akan diserahkan kepada Pemkot Makassar untuk menentukan desain yang paling representatif dengan tema Hari Jadi ke-419 Kota Makassar.
“Semua poin-poin sudah terpenuhi, sudah layak, kita serahkan ke pihak panitia Pemkot, dalam hal ini Pak Wali untuk menentukan pilihan mana yang paling representatif mewakili Hari Jadi Kota Makassar sesuai tema yang dibuat oleh Pemerintah Kota Makassar,” ujarnya.
Salah satu hal yang membedakan proses ini adalah seluruh peserta yang masuk dalam tahap perancangan akan mendapatkan fee desain.
Andi mengatakan, kebijakan tersebut menjadi bagian dari prinsip ADGI yang menolak praktik speculative work, yakni pekerjaan desain yang dilakukan tanpa kepastian kompensasi bagi desainer.
“Siapa pun yang menang, semua dapat fee desain. Beda kalau sayembara terbuka, orang kirim, yang tidak menang tidak dapat apa-apa,” sebutnya.
“Sementara kita di ADGI menolak istilah speculative work, kerjaan yang Anda mendesain kemudian tidak dibayar,” sambungnya.
Selain menghasilkan identitas visual Hari Jadi ke-419 Kota Makassar, proses tersebut juga diharapkan menjadi ruang pengembangan kapasitas bagi talenta kreatif lokal.
“Minimal dalam proses kuratorial, teman-teman secara level, standar, dan skill-nya bisa naik,” tukasnya.
Informasi lengkap mengenai ketentuan dan mekanisme submisi sayembara dapat diakses melalui akun Instagram ADGI Chapter Makassar, @adgi_makassar, serta media sosial Dinas Pariwisata Kota Makassar.
