MAKASSAR, SMARTMAKASSAR.COM — Pengembangan pariwisata ramah Muslim menjadi salah satu peluang strategis Sulawesi Selatan dalam memperkuat pertumbuhan ekonomi daerah. Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Sulawesi Selatan bersama Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan mendorong penguatan ekosistem tersebut melalui kajian Indonesia Muslim Travel Index (IMTI) 2026.
Forum Diskusi Kajian IMTI 2026 yang digelar di Kantor Perwakilan BI Sulsel, Makassar, menjadi bagian dari proses asesmen untuk memetakan kesiapan Sulawesi Selatan dalam mengembangkan destinasi wisata ramah Muslim yang inklusif dan berdaya saing.
Deputi Kepala Perwakilan BI Sulsel, Firman Hidayat, mengatakan pelaksanaan IMTI 2026 menjadi momentum penting bagi Sulawesi Selatan untuk mendapatkan gambaran menyeluruh mengenai perkembangan ekosistem pariwisata ramah Muslim sekaligus mengidentifikasi ruang penguatan ke depan.
“Pelaksanaan IMTI menjadi momentum penting bagi Sulawesi Selatan untuk memperoleh pemetaan yang lebih komprehensif mengenai kesiapan dan perkembangan ekosistem Pariwisata Ramah Muslim,” ujar Firman di Makassar, Rabu (2/9).
Sulawesi Selatan merupakan salah satu dari 14 provinsi yang mengikuti asesmen IMTI 2026 dan telah masuk dalam 15 besar tahap penentuan rating serta ranking Destinasi Wisata Halal Unggulan Indonesia Tahun 2026.
BI Sulsel menyebut terdapat tiga aspek utama yang perlu diperkuat untuk meningkatkan daya saing pariwisata ramah Muslim, yakni kualitas destinasi, standar layanan global, serta keterhubungan dengan potensi ekonomi lokal.
Penguatan destinasi mencakup kemudahan akses dan konektivitas, kebersihan, keamanan, ketersediaan informasi, hingga kemudahan transaksi bagi wisatawan. Sementara dari sisi layanan, destinasi ramah Muslim diarahkan agar mampu memenuhi kebutuhan wisatawan Muslim sekaligus tetap nyaman bagi wisatawan dari berbagai latar belakang.
Selain itu, pengembangan wisata ramah Muslim juga diharapkan mampu memperkuat keterkaitan dengan sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), khususnya melalui kuliner lokal dan produk halal unggulan Sulawesi Selatan.
BI Sulsel menilai pengembangan ekosistem tersebut membutuhkan kolaborasi antara pemerintah daerah, pelaku industri pariwisata, UMKM, komunitas, asosiasi, serta berbagai lembaga terkait.
Melalui sinergi lintas sektor, hasil asesmen IMTI 2026 diharapkan tidak hanya menjadi indikator peringkat destinasi, tetapi juga menjadi dasar penyusunan kebijakan untuk memperkuat rantai nilai halal (halal value chain) dan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.
