LUWU TIMUR, SMARTMAKASSAR.COM — Upaya menjaga keberlanjutan lingkungan terus diperkuat melalui kolaborasi lintas sektor. PT Vale Indonesia Tbk, bagian dari Mining Industry Indonesia (MIND ID), bersama Universitas Hasanuddin, Sorowako Diving Club, aktivis lingkungan, dan relawan melakukan rehabilitasi ekosistem pesisir di kawasan Mangkasa Point, Desa Harapan, Kecamatan Malili, Kabupaten Luwu Timur.
Kegiatan yang berlangsung dalam rangka memperingati Hari Konservasi Alam Nasional tersebut menjadi bagian dari komitmen perusahaan dalam mendukung praktik pertambangan berkelanjutan sekaligus memperkuat ketahanan lingkungan pesisir menghadapi perubahan iklim.
Sebanyak 50 bibit mangrove jenis Avicennia atau api-api ditanam di kawasan pesisir, sementara 200 lamun jenis Enhalus acoroides ditransplantasikan untuk memulihkan habitat laut yang memiliki peran penting bagi keberlangsungan ekosistem.
Head of External Relations PT Vale Indonesia Growth Project Sorowako Limonite (IGP Sorlim), Yusri Yunus, mengatakan konservasi lingkungan membutuhkan kerja bersama dari berbagai pihak.
“Pelestarian lingkungan tidak dapat dilakukan sendiri. Dibutuhkan kolaborasi dan komitmen bersama agar langkah yang dilakukan hari ini memberikan dampak nyata bagi masa depan,” ujar Yusri.
Menurutnya, kegiatan konservasi tersebut menjadi bagian dari upaya perusahaan menerapkan prinsip keberlanjutan dalam operasional bisnis. Tidak hanya menjaga keseimbangan ekosistem, program tersebut juga menjadi investasi jangka panjang bagi masyarakat dan generasi mendatang.
Sementara itu, Head of Sorowako Limonite Project, Suharpiyu Wijaya, menyampaikan bahwa aspek keberlanjutan menjadi fondasi dalam pengembangan proyek PT Vale, termasuk proyek IGP Sorowako Limonite.
“Langkah yang dilakukan hari ini mungkin terlihat sederhana, tetapi menjadi awal dari legacy yang ingin kami tinggalkan untuk masa depan,” katanya.
Dorong Blue Carbon dan Perlindungan Pesisir
Kolaborasi konservasi ini tidak hanya berfokus pada penanaman vegetasi pesisir, tetapi juga menjaga fungsi ekologis kawasan laut.
Mangrove memiliki peran penting dalam melindungi garis pantai dari abrasi, menjadi habitat berbagai biota laut, serta menyerap karbon alami. Sementara ekosistem lamun berkontribusi dalam penyimpanan karbon biru (blue carbon) dan menjadi tempat berkembang biak berbagai jenis ikan serta organisme laut.
St. Firjatih Widhah dari tim Puslit Sumberdaya Alam LPPM Universitas Hasanuddin menjelaskan bahwa keberadaan lamun memiliki nilai ekologis yang besar, meski belum banyak mendapat perhatian dibandingkan ekosistem pesisir lainnya.
“Lamun memiliki kapasitas penyimpanan karbon yang besar dan berkontribusi dalam mitigasi perubahan iklim. Melalui transplantasi ini, kita memperkuat fungsi ekologis kawasan pesisir,” ujarnya.
Menurutnya, keberhasilan rehabilitasi lamun membutuhkan kajian teknis dan pemantauan berkelanjutan agar ekosistem dapat berkembang secara optimal.
Kegiatan tersebut juga melibatkan sekitar 50 peserta yang berpartisipasi dalam penanaman mangrove, transplantasi lamun, hingga aksi bersih pantai. Keterlibatan masyarakat dan generasi muda menjadi bagian penting dalam memastikan keberlanjutan program konservasi.
PT Vale berharap program rehabilitasi pesisir di Mangkasa Point dapat memberikan manfaat jangka panjang, memperkuat ketahanan ekosistem Luwu Timur, serta menjadi contoh kolaborasi pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan.
