MAKASSAR, SMARTMAKASSAR.COM — Pembenahan kolam air lindi di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Tamangapa, Antang, Kecamatan Manggala, mulai menunjukkan perkembangan setelah Pemerintah Kota Makassar menerapkan teknologi mikrobiologi untuk mengatasi persoalan pencemaran di kawasan tersebut.
Pemkot Makassar menggandeng PT Esa Maha Karya Tunggal (EcoTru), perusahaan yang bergerak di bidang pengelolaan limbah dan remediasi lingkungan, untuk melakukan treatment menggunakan mikroba dan enzim organik.
Direktur PT Esa Maha Karya Tunggal (EcoTru), Eka Lestari Sinaga, mengatakan metode yang diterapkan menggunakan mikrobiologi yang bersifat alami. Saat ini, proses tersebut telah memasuki hari ketiga dan mulai menunjukkan perubahan pada salah satu kolam.
Hal tersebut disampaikan Eka saat meninjau langsung lokasi pembenahan kolam air lindi di TPA Tamangapa, Makassar, Minggu (30/8/2026).
“Treatment yang sedang kita jalankan menggunakan metode mikrobiologi 100 persen alami. Mekanismenya, bakteri ini sudah diaplikasikan selama tiga hari,” ujar Eka.
Dalam peninjauan tersebut, Eka didampingi Kepala Bidang Wilayah II Pusdal LH Sulawesi dan Maluku, Arnianah Alwi, serta Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Makassar, Ferdi Mochtar.
Kehadiran jajaran pemerintah dan pengawas lingkungan itu menjadi bagian dari pemantauan proses pembenahan kolam lindi agar tahapan pengolahan berjalan sesuai target.
Eka menjelaskan, pembenahan difokuskan pada kolam penampungan dan pengolahan air lindi. Cairan yang berasal dari rembesan timbunan sampah tersebut ditreatment untuk menekan kandungan polutan dan meningkatkan kualitas air hasil olahan.
Penerapan mikrobiologi akan dilakukan secara berkelanjutan selama tujuh hari untuk melihat perkembangan proses penguraian material organik dan polutan yang terdapat di dalam kolam.
Setelah proses berjalan, sedimen atau lumpur lama yang berada di dasar kolam akan terdorong ke permukaan. Material tersebut selanjutnya disaring sehingga jumlah sedimen di dalam kolam dapat berkurang secara bertahap.
“Sedimen ataupun lumpur yang sudah lama akan dinaikkan. Mekanismenya nanti dia mengambang di atas air kolam, kemudian akan disaring. Sedimennya akan berkurang dari kinerja bakteri EcoTru,” jelasnya.
Menurut Eka, mikroorganisme yang digunakan EcoTru mampu bertahan pada kondisi lingkungan yang relatif ekstrem. Bakteri tersebut dapat bekerja pada rentang pH 5 hingga 9 dan suhu 20 sampai 60 derajat Celsius.
“Dengan kondisi air yang ekstrem, bakteri ini mampu bertahan hidup,” terangnya.
Memasuki hari ketiga penerapan teknologi, perubahan mulai terlihat di salah satu kolam. Salah satu indikatornya adalah mulai terbentuknya biofilm di Kolam 7.
Eka mengatakan biofilm berfungsi sebagai media penahan mikroorganisme agar tidak langsung terbawa keluar bersama aliran efluen. Dengan begitu, bakteri dapat bertahan lebih lama di dalam kolam untuk menguraikan material pencemar.
“Jadi hari ketiga ini sudah tampak biofilm di Kolam 7. Itu berfungsi sebagai penahan bakteri untuk tidak keluar ke efluen secara cepat, sehingga bakteri bisa bekerja terus-menerus sampai tiga bulan ke depan,” ungkapnya.
Eka menambahkan, penerapan teknologi tersebut merupakan bagian dari upaya pemulihan kondisi kolam lindi yang berada di area yang saat ini mendapatkan sanksi administratif.
Menurutnya, EcoTru bersama Pemkot Makassar berupaya memperbaiki sistem pengelolaan lingkungan di kawasan TPA Tamangapa, termasuk menindaklanjuti sanksi administratif dari Kementerian Lingkungan Hidup (KLH).
“Jadi, proses pembenahan ini juga menjadi bagian dari upaya kami PT EcoTru bersama Pemerintah Kota Makassar melakukan perbaikan terhadap pengelolaan lingkungan di kawasan TPA Tamangapa,” katanya.
“Ya, termasuk menindaklanjuti sanksi administratif dari Kementerian Lingkungan Hidup (KLH),” tambahnya.
Proses pemulihan akan dilakukan secara bertahap dengan memantau perkembangan kualitas air serta hasil pengolahan pada masing-masing kolam.
“Ini akan diaplikasikan sampai nanti area yang memang sedang terkena sanksi administratif bisa pulih kembali,” terangnya.
Selain mengurangi sedimen, teknologi EcoTru juga diarahkan untuk memperbaiki kualitas air lindi sekaligus mengendalikan bau yang muncul dari cairan hasil rembesan timbunan sampah.
Eka menjelaskan, air lindi merupakan campuran kompleks yang terbentuk dari air hujan yang masuk ke timbunan sampah, material organik, serta berbagai polutan lainnya. Karena itu, pengolahannya tidak hanya berfokus pada pengurangan bau, tetapi juga penurunan parameter pencemaran.
“Yang diutamakan adalah menjernihkan air, kemudian menekan bau busuk yang ada dari air lindi ataupun air hasil dari TPA ini,” tegasnya.
Meski perubahan warna dan bau dapat menjadi indikator awal, Eka menekankan keberhasilan treatment tetap harus dibuktikan melalui pengujian laboratorium berdasarkan parameter yang dipersyaratkan dalam ketentuan lingkungan hidup.
Beberapa parameter yang menjadi perhatian antara lain Biological Oxygen Demand (BOD), Chemical Oxygen Demand (COD), Total Suspended Solids (TSS), serta kandungan logam berat seperti kadmium.
“Berdasarkan aturan dari KLH, ada parameter seperti COD, BOD, TSS, kadmium, itu juga harus turun sesuai dengan baku mutu yang ditetapkan,” sebutnya.
Dengan demikian, proses treatment di TPA Tamangapa tidak berhenti pada upaya mengurangi bau dan memperbaiki tampilan air, tetapi diarahkan untuk menghasilkan kualitas efluen yang memenuhi baku mutu lingkungan.
Teknologi pengolahan biologis EcoTru menggunakan bakteri dan enzim organik untuk membantu mengurai material pencemar dalam air lindi.
“Teknologi kami gunakan, telah kami diterapkan di sejumlah lokasi TPA di Indonesia untuk membantu proses pengolahan limbah dan remediasi lingkungan air lindi,” tukasnya.
