MAKASSAR, SMARTMAKASSAR.COM — Kinerja sektor jasa keuangan di Sulawesi Selatan hingga Juni 2026 tetap menunjukkan kondisi stabil di tengah dinamika ekonomi global dan domestik, termasuk ketidakpastian geopolitik serta tekanan inflasi.
Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat menyatakan stabilitas sektor keuangan Sulsel tercermin dari kinerja perbankan, pasar modal, dan Industri Keuangan Non-Bank (IKNB) yang tetap tumbuh positif.
Pada sektor perbankan, total aset perbankan Sulawesi Selatan tercatat tumbuh 5,99 persen secara tahunan (year on year/yoy) menjadi Rp214,32 triliun. Sementara penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) meningkat 5,71 persen menjadi Rp149,77 triliun.
Pertumbuhan dana masyarakat tersebut menunjukkan masih kuatnya kepercayaan masyarakat terhadap industri perbankan di tengah perubahan kondisi ekonomi. DPK perbankan Sulsel masih didominasi tabungan dengan porsi 61,45 persen, disusul deposito 22,68 persen dan giro 15,87 persen.
Dari sisi penyaluran pembiayaan, kredit perbankan Sulsel tumbuh 5,27 persen menjadi Rp176,30 triliun. Kredit produktif memiliki porsi 52,28 persen, sementara kredit konsumtif mencapai 47,72 persen dengan pertumbuhan 8,66 persen.
Fungsi intermediasi perbankan tetap berjalan dengan baik dengan Loan to Deposit Ratio (LDR) sebesar 117,71 persen. Sementara rasio kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL) masih terjaga pada level 3,70 persen, menunjukkan perbankan tetap mampu mendukung aktivitas ekonomi dengan prinsip kehati-hatian.
Kredit UMKM Capai Rp62,3 Triliun
Dukungan sektor jasa keuangan terhadap ekonomi daerah juga terlihat dari penyaluran kredit kepada sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang mencapai Rp62,30 triliun atau 36,06 persen dari total kredit perbankan Sulsel.
Meski tumbuh moderat 1,12 persen secara tahunan, sektor UMKM tetap menjadi perhatian utama karena berperan sebagai penggerak ekonomi daerah, penyerap tenaga kerja, dan penopang aktivitas usaha masyarakat. Kredit UMKM tersebut telah disalurkan kepada 902.581 debitur.
Investor Pasar Modal Sulsel Tembus 766 Ribu
Selain sektor perbankan, partisipasi masyarakat Sulsel di pasar modal terus meningkat. Jumlah investor yang tercatat melalui Single Investor Identification (SID) mencapai 766.125 investor atau tumbuh 79,28 persen (yoy).
Pertumbuhan tertinggi terjadi pada instrumen reksa dana yang meningkat 81,35 persen. Kondisi tersebut menunjukkan meningkatnya pemahaman masyarakat terhadap investasi sebagai bagian dari perencanaan keuangan jangka panjang.
IKNB Dorong Akses Pembiayaan Masyarakat
Kinerja Industri Keuangan Non-Bank (IKNB) juga menunjukkan perkembangan positif. Perusahaan pembiayaan mencatat penyaluran pembiayaan Rp19,39 triliun atau tumbuh 3,56 persen (yoy).
Sementara pembiayaan fintech peer-to-peer lending mencapai Rp2,64 triliun dengan pertumbuhan 29,64 persen, dan industri pergadaian mencatat pertumbuhan tertinggi dengan total pembiayaan Rp12,58 triliun atau naik 44,83 persen (yoy).
OJK Perkuat Literasi dan Perlindungan Konsumen
OJK Sulsel Sulbar terus memperkuat edukasi dan perlindungan konsumen melalui berbagai program literasi keuangan. Sepanjang Januari hingga Juli 2026, sebanyak 198 kegiatan edukasi keuangan telah menjangkau 2.204.391 peserta di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat.
Dalam layanan konsumen, OJK menerima 1.941 layanan dengan isu terbanyak terkait restrukturisasi, layanan Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK), perilaku petugas penagihan, sanggahan transaksi, serta penyalahgunaan data pribadi.
OJK menegaskan komitmen menjaga stabilitas sektor jasa keuangan sekaligus memperluas akses masyarakat terhadap layanan keuangan yang aman, inklusif, dan berkelanjutan.
