JAKARTA, SMARTMAKASSAR.COM – PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk mencatat kinerja keuangan yang dinilai tetap resilien sepanjang tahun buku 2025 di tengah tekanan industri telekomunikasi dan perlambatan ekonomi. Perseroan membukukan total shareholder return (TSR) sebesar 35,7 persen, ditopang capital gain 28,4 persen dan dividend yield 7,3 persen.
Di sisi lain, laba bersih Telkom mengalami kontraksi akibat percepatan depresiasi aset sebagai bagian dari agenda pembenahan tata kelola perusahaan atau total governance reset. Sepanjang 2025, Telkom mencatat laba bersih sebesar Rp17,8 triliun dengan pendapatan konsolidasi mencapai Rp146,7 triliun.
Direktur Utama Dian Siswarini mengatakan perusahaan kini memasuki fase percepatan transformasi melalui strategi TLKM 30 untuk memperkuat fundamental bisnis dan meningkatkan penciptaan nilai jangka panjang.
“Lewat strategi TLKM 30, Telkom memantapkan arah transformasi yang lebih terstruktur untuk mengakselerasi terwujudnya visi sebagai penggerak ekosistem digital nasional yang berdaya saing global,” ujar Dian dalam keterangan resmi.
Transformasi tersebut dijalankan melalui empat pilar utama, mulai dari penguatan tata kelola dan efisiensi operasional, perampingan bisnis non-inti, optimalisasi aset digital infrastruktur, hingga perubahan model holding perusahaan menjadi strategic holding.
Salah satu langkah strategis yang disorot ialah rencana pemisahan sebagian bisnis wholesale fiber connectivity ke InfraNexia melalui skema carve-out. Langkah ini dinilai menjadi upaya Telkom membuka nilai aset sekaligus meningkatkan efisiensi dan fokus bisnis infrastruktur digital.
Selain itu, Telkom juga tengah merampungkan proses divestasi bisnis kesehatan digital AdMedika dan TelkoMedika yang ditargetkan selesai pada semester pertama 2026.
Perusahaan menyebut langkah tersebut sebagai bagian dari penataan portofolio agar lebih fokus pada bisnis inti telekomunikasi dan digital.
Dari sisi pasar, pemulihan mulai terlihat pada segmen konsumen atau B2C. Telkomsel mencatat pendapatan konsolidasian Rp109,2 triliun dengan pertumbuhan trafik data sebesar 15 persen secara tahunan. Perusahaan juga menyebut Average Revenue Per User (ARPU) mulai menunjukkan tren pemulihan sejak semester kedua 2025 seiring kompetisi industri yang lebih sehat.
Sementara pada segmen B2B Infrastructure, Telkom membukukan pendapatan Rp8,9 triliun atau tumbuh 9,2 persen dibanding tahun sebelumnya. Pertumbuhan ditopang bisnis data center dan ekspansi fiber.
Melalui anak usaha dan entitas infrastrukturnya, Telkom kini mengoperasikan lebih dari 210 ribu kilometer jaringan serat optik, fasilitas hyperscale data center di Indonesia dan Singapura, hingga lebih dari 40 ribu menara telekomunikasi melalui Mitratel.
Di tengah tekanan efisiensi anggaran pemerintah yang memengaruhi permintaan solusi korporasi, Telkom juga mulai memperkuat bisnis layanan digital berbasis Connectivity+, cybersecurity, dan artificial intelligence (AI) untuk memperluas pasar B2B ICT.
Sepanjang 2025, Telkom mengalokasikan belanja modal sebesar Rp27,5 triliun atau sekitar 18,8 persen dari total pendapatan. Mayoritas investasi diarahkan untuk pengembangan infrastruktur digital dan konektivitas.
Menurut Dian, tahun 2026 menjadi fase penting bagi Telkom untuk mempercepat transformasi sekaligus memperkuat daya saing di tengah perubahan industri telekomunikasi nasional.
“Kami semakin yakin dapat memperkuat daya saing dan menciptakan nilai yang berkelanjutan,” katanya.
