SMARTMAKASSAR.COM, JAKARTA – Stabilitas sektor jasa keuangan Indonesia tetap terjaga di tengah meningkatnya ketidakpastian global, meski sejumlah indikator menunjukkan tekanan pada pasar keuangan dan meningkatnya risiko di sektor digital, termasuk pinjaman online (pinjol).
Hal ini disampaikan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam hasil Rapat Dewan Komisioner (RDK) April 2026. OJK menilai kondisi global masih dibayangi konflik geopolitik dan gangguan distribusi energi yang berdampak pada volatilitas harga minyak serta risiko stagflasi dunia.
“Stabilitas sektor jasa keuangan tetap terjaga di tengah dinamika global yang masih penuh ketidakpastian,” tulis OJK dalam siaran resminya.
Di pasar domestik, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat melemah 19,55 persen secara year-to-date ke level 6.956,80 pada April 2026. Meski demikian, likuiditas pasar dinilai masih memadai dan aktivitas investasi tetap berjalan.
Sementara itu, sektor perbankan menunjukkan kinerja positif dengan pertumbuhan kredit sebesar 9,49 persen secara tahunan menjadi Rp8.659 triliun. Likuiditas dan permodalan bank juga tetap kuat, dengan rasio kecukupan modal (CAR) di level 25,09 persen.
Namun di sisi lain, OJK menyoroti peningkatan signifikan pada pembiayaan berbasis digital. Outstanding pinjaman daring (pindar) tumbuh 26,25 persen menjadi Rp101,03 triliun, dengan tingkat risiko kredit macet (TWP90) sebesar 4,52 persen.
Lonjakan ini terjadi bersamaan dengan maraknya aktivitas keuangan ilegal. Sepanjang 2026 hingga April, Satgas PASTI telah menghentikan 951 entitas pinjol ilegal.
Sebagai respons, OJK memperkuat pengawasan dan perlindungan konsumen, termasuk pemblokiran ratusan ribu rekening terkait penipuan keuangan melalui Indonesia Anti-Scam Centre (IASC). Total dana korban yang berhasil diblokir mencapai Rp614,3 miliar.
Di tengah tekanan global, ekonomi domestik tetap tumbuh solid sebesar 5,61 persen, ditopang konsumsi rumah tangga dan belanja pemerintah.
Ke depan, OJK menegaskan akan terus memperkuat pengawasan sektor keuangan, meningkatkan literasi masyarakat, serta menjaga stabilitas sistem keuangan melalui berbagai kebijakan antisipatif terhadap risiko global dan domestik.
