SMARTMAKASSAR.COM – Penerapan kebijakan Work From Home (WFH) setiap hari Jumat bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) tidak menyurutkan aktivitas di Balai Kota Makassar. Di bawah kepemimpinan Munafri Arifuddin, roda pemerintahan justru tetap berjalan aktif dengan fokus pada percepatan program strategis.
Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, memilih menjadikan momentum WFH bukan sebagai jeda, melainkan sebagai ruang percepatan kerja untuk tetap beraktivitas di kantor.
Munafri bersama jajaran Pemerintah Kota Makassar tetap hadir di kantor, mengonsolidasikan langkah, dan memastikan berbagai program strategis terus bergerak maju tanpa hambatan.
Pemerintah Kota Makassar menggunakan momentum ini untuk memperkuat koordinasi internal, mempercepat pengambilan keputusan, serta memastikan implementasi program prioritas berjalan lebih efektif dan terarah.
Salah satu fokus utama yang mendapat perhatian serius adalah pengelolaan sampah perkotaan, isu klasik yang semakin kompleks seiring pertumbuhan kota.
Dalam suasana kerja yang tetap dinamis, Pemkot Makassar menggelar rapat koordinasi strategis bersama Kepala Pusat Pengendalian Lingkungan Hidup Sulawesi dan Maluku (Pusdal LH-SUMA), Azri Rasul, di Balai Kota Makassar, Jumat (10/4/2026).
Munafri menegaskan bahwa persoalan sampah tidak dapat dilepaskan dari karakter Makassar sebagai kota metropolitan dengan produksi sampah tinggi dan kompleksitas penanganan yang terus berkembang.
“Kita mendengarkan dengan sangat detail apa yang menjadi persoalan dalam pengelolaan sampah ini. Saya sangat bersyukur ada perhatian dari Pak Azri Rasul yang terus memberikan arahan dan rincian apa saja yang harus kita kerjakan,” ujarnya.
Pertemuan tersebut menjadi langkah konkret untuk merumuskan pendekatan baru dalam tata kelola sampah yang lebih sistematis, terintegrasi, dan berbasis tanggung jawab lintas sektor.
Pemkot Makassar menegaskan bahwa persoalan sampah tidak bisa ditangani secara parsial, melainkan membutuhkan sinergi kuat antara pemerintah, lembaga teknis, hingga partisipasi masyarakat.
Dengan semangat kerja tanpa jeda, Munafri ingin memastikan seluruh kebijakan bermuara pada tujuan besar menghadirkan kota yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan.
Sebagai bagian dari upaya tersebut, Pemkot Makassar terus mematangkan transformasi pengelolaan sampah, khususnya di TPA Antang, dengan mengadopsi sistem sanitary landfill yang lebih terstruktur dan ramah lingkungan.
Munafri juga mengakui bahwa saat ini TPA Makassar masih menggunakan sistem open dumping yang berdampak serius terhadap lingkungan, termasuk meluasnya limbah lindi hingga ke kawasan permukiman warga.
“Di wilayah lain nilainya sudah cukup baik, tapi ketika masuk ke TPA, semua nilainya turun. Ini yang menjadi persoalan utama kita,” tegasnya.
Ia menekankan bahwa persoalan sampah bukan hanya tanggung jawab Dinas Lingkungan Hidup (DLH), melainkan seluruh perangkat daerah dengan peran masing-masing.
Selain itu, Munafri mengungkapkan bahwa kapasitas pengangkutan sampah di Makassar baru mencapai sekitar 67 persen dari total produksi harian yang mencapai 800 ton.
“Artinya, masih terdapat sekitar 30 persen sampah yang berpotensi tercecer dan tidak tertangani,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Pusdal LH-SUMA, Azri Rasul, menjelaskan bahwa Makassar telah masuk kategori kota metropolitan dengan jumlah penduduk di atas satu juta jiwa, termasuk mobilitas masyarakat dari daerah penyangga seperti Maros dan Gowa.
Ia menyebutkan, jika dihitung secara komprehensif, volume sampah di Makassar dapat mencapai lebih dari 1.000 ton per hari.
Menurutnya, kunci utama pengelolaan sampah terletak pada pemilahan dari sumber, yakni memisahkan sampah organik dan anorganik.
“Kalau ini berjalan, maka praktis tidak ada lagi sampah yang masuk ke TPA, kecuali residu yang memang tidak bisa dimanfaatkan,” ujarnya.
Azri juga menegaskan pentingnya pembagian tanggung jawab yang jelas di setiap sektor, mulai dari pasar, rumah sakit, hingga kawasan permukiman.
Dengan kolaborasi lintas sektor dan sistem yang terstruktur, Pemkot Makassar optimistis mampu mewujudkan pengelolaan sampah yang lebih modern, efektif, dan berkelanjutan.
