JAKARTA, SMARTMAKASSAR.COM — Momentum Hari Lingkungan Hidup Sedunia dimanfaatkan Telkomsel untuk mempertegas komitmennya terhadap praktik bisnis berkelanjutan di tengah meningkatnya ancaman perubahan iklim. Perusahaan telekomunikasi tersebut menegaskan bahwa sustainability bukan lagi sekadar agenda pendukung, melainkan bagian dari strategi bisnis untuk menciptakan dampak nyata bagi lingkungan dan masyarakat.
Komisaris Utama Telkomsel sekaligus Wakil Menteri Lingkungan Hidup RI, Diaz F.M. Hendropriyono, mengatakan sektor usaha perlu mengambil peran lebih besar dalam mendorong praktik ramah lingkungan, termasuk perusahaan di luar sektor ekstraktif.
“Perubahan iklim adalah tantangan nyata yang dampaknya sudah dan akan semakin dirasakan. Dunia usaha perlu mengambil peran lebih besar untuk mendorong praktik yang lebih hijau dan berkelanjutan,” ujar Diaz dalam keterangan resmi, Kamis (5/6).
Menurut Diaz, langkah Telkomsel menunjukkan bahwa keberlanjutan dapat dijalankan lintas sektor industri. Ia menilai perusahaan yang konsisten menjaga aspek lingkungan akan memiliki nilai tambah sekaligus kepercayaan publik yang lebih kuat, terutama di mata generasi masa depan.
Direktur Utama Telkomsel, Nugroho, menyebut pertumbuhan perusahaan tidak akan bermakna tanpa diiringi kualitas lingkungan dan kehidupan masyarakat yang membaik.
“Perusahaan tidak mungkin maju sendirian tanpa lingkungan dan masyarakat di sekitarnya ikut berkembang. Sebesar apa pun pertumbuhan yang dicapai akan kehilangan makna jika lingkungan tidak terjaga,” kata Nugroho.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui tiga fokus utama keberlanjutan perusahaan, yakni Jaga Cita, Jaga Data, dan Jaga Bumi.
Pada aspek Jaga Cita, Telkomsel memperluas akses ekonomi digital melalui layanan yang menjangkau 156,1 juta pelanggan mobile dan 10,3 juta pelanggan IndiHome B2C sepanjang 2025. Infrastruktur perusahaan didukung lebih dari 293 ribu BTS, termasuk layanan di lebih dari 360 desa blank spot. Selain itu, sekitar 90 ribu pelajar, pelaku UMKM, komunitas, hingga talenta muda dibina melalui berbagai program berbasis digital.
Sementara pada pilar Jaga Data, Telkomsel memperkuat perlindungan keamanan informasi pelanggan melalui penerapan standar ISO 27001, ISO 27701, dan ISO 25010 guna memperkuat tata kelola keamanan siber dan perlindungan data.
Di sektor lingkungan melalui Jaga Bumi, Telkomsel mulai memperluas penggunaan energi terbarukan pada operasional jaringan. Hingga 2025, sebanyak 361 BTS telah memanfaatkan sumber energi solar panel dan mikrohidro. Perusahaan juga menyatakan seluruh limbah elektronik telah dikelola melalui skema recycle, reuse, dan refurbish, sementara kemasan kartu SIM kini menggunakan material kertas ramah lingkungan.
Sebagai bagian dari pengurangan jejak karbon, Telkomsel juga melakukan penanaman lebih dari 12 ribu pohon mangrove sepanjang 2025 serta memperkuat ketahanan infrastruktur layanan dari risiko perubahan iklim.
Tak hanya menyasar lingkungan, dampak keberlanjutan perusahaan juga diklaim dirasakan ekosistem bisnis. Sepanjang 2025, sekitar 83 persen total pendapatan Telkomsel didistribusikan kembali kepada pemerintah, pemegang saham, rantai pasok, hingga karyawan, dengan dukungan lebih dari 235 ribu mitra outlet ritel di berbagai daerah.
Direktur Planning & Transformation Telkomsel, Wong Soon Nam, mengatakan keberhasilan transisi menuju bisnis berkelanjutan hanya dapat dicapai melalui kolaborasi seluruh pemangku kepentingan.
“Telkomsel ingin terus mendorong kolaborasi agar dapat bergerak bersama menciptakan dampak nyata bagi Indonesia,” ujarnya.
Komitmen tersebut juga menjadi bagian dari strategi keberlanjutan GoZero Telkom Group untuk mendukung target pengurangan emisi menuju Net Zero 2060.
