SMARTMAKASSAR.COM — Pemerintah Kota Makassar memperketat proses seleksi calon kepala puskesmas melalui tahapan uji kompetensi dan wawancara mendalam guna memastikan lahirnya sumber daya manusia (SDM) kesehatan yang unggul dan profesional di garda terdepan pelayanan masyarakat.
Tahapan wawancara ini menjadi bagian penting dalam proses seleksi, dengan fokus pada penilaian kemampuan manajerial, kepemimpinan, serta pemahaman teknis di bidang pelayanan kesehatan.
Sekretaris Daerah Makassar, Andi Zulkifly, menegaskan bahwa uji kompetensi yang dilanjutkan dengan wawancara merupakan langkah strategis untuk menempatkan SDM yang tepat pada posisi yang sesuai.
“Uji kompetensi dan tahapan wawancara ini penting untuk memastikan bahwa calon kepala puskesmas memiliki kemampuan manajerial dan teknis yang memadai dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat,” ujar Andi Zulkifly di Kantor Balai Kota Makassar, Selasa (7/4).
Menurutnya, peran kepala puskesmas sangat krusial dalam menentukan kualitas layanan kesehatan tingkat pertama, sehingga proses seleksi harus dilakukan secara ketat, objektif, dan profesional.
“Kami ingin memastikan bahwa yang terpilih benar-benar memiliki komitmen, integritas, serta kemampuan dalam memimpin dan mengelola fasilitas pelayanan kesehatan secara optimal,” jelasnya.
Melalui tahapan ini, Pemkot Makassar berharap dapat menghadirkan kepala puskesmas yang tidak hanya kompeten secara teknis, tetapi juga mampu berinovasi dalam meningkatkan mutu layanan kesehatan.
“Kita harap mutu pelayanan kesehatan di Makassar semakin baik, karena orientasi utama kita adalah masyarakat,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Makassar, Nursaidah Sirajuddin, mengungkapkan bahwa seleksi ini diikuti oleh 84 peserta untuk mengisi kebutuhan 47 kepala puskesmas yang tersebar di 15 kecamatan.
Setelah melalui uji kompetensi, peserta melanjutkan ke tahap wawancara yang melibatkan lima panelis, termasuk Sekda Makassar, tenaga ahli wali kota, serta jajaran Dinas Kesehatan.
“Peserta yang ikut uji kompetensi sebanyak 84 orang, sementara kebutuhan kita 47 kepala puskesmas. Hari ini kita lakukan wawancara untuk melihat lebih dalam kapasitas kepemimpinan dan manajerial mereka,” ujar Nursaidah.
Dalam tahap wawancara, panelis menilai berbagai aspek penting seperti integritas, kemampuan kepemimpinan, problem solving, hingga inovasi yang dapat diterapkan di puskesmas.
“Kami ingin memastikan ke depan puskesmas menjadi fasilitas kesehatan yang bermutu, baik dari sisi layanan, sarana prasarana, maupun SDM,” jelasnya.
Ia menambahkan, proses ini juga merupakan bagian dari penerapan manajemen talenta di lingkungan Pemkot Makassar, sehingga potensi aparatur sipil negara (ASN) dapat dipetakan secara objektif.
“Melalui uji kompetensi ini, kita bisa melihat siapa yang memiliki potensi besar untuk menjadi pemimpin, bahkan dari ASN yang sebelumnya tidak terlalu terlihat,” paparnya.
Lebih lanjut, ia berharap kegiatan serupa dapat terus dilakukan secara rutin sebagai bagian dari peningkatan kapasitas ASN, khususnya di sektor kesehatan.
“Minimal bagi yang belum terpilih, mereka tetap mendapatkan peningkatan kapasitas. Ini bagian dari upaya kita meng-upgrade kemampuan ASN secara berkelanjutan,” ujarnya.
Hasil akhir seleksi nantinya akan dilaporkan kepada Wali Kota Makassar untuk ditetapkan sesuai kebutuhan organisasi. Kepala puskesmas terpilih diharapkan mampu menghadirkan inovasi, meningkatkan kualitas layanan, serta memperkuat kolaborasi lintas sektor di wilayah kerja masing-masing.
“Mereka harus mampu membawa perubahan, meningkatkan layanan, dan memperkuat peran puskesmas sebagai penanggung jawab kesehatan di wilayahnya,” tutup Nursaidah.
