MAKASSAR, SMARTMAKASSAR.COM — Di tengah kompleksitas persoalan sampah perkotaan, warga Cluster Berlian Permai (CBP) di Kecamatan Manggala memilih mengambil langkah nyata. Berawal dari keresahan terhadap meningkatnya volume sampah rumah tangga, mereka kini tengah membangun sebuah gerakan lingkungan berbasis masyarakat yang mengarah pada konsep kawasan Zero Waste.
Berlokasi di RT 4 RW 7, Kelurahan Bangkala, Cluster Berlian Permai tidak hanya berkembang sebagai kawasan hunian, tetapi juga tumbuh menjadi komunitas yang menanamkan budaya hidup bersih, gotong royong, dan kepedulian terhadap lingkungan.
Gerakan tersebut berangkat dari visi Ketua RT 4 RW 7 CBP, Prof. Muhammad Zubair Muis Alie, yang bercita-cita mewujudkan kawasan permukiman yang bersih, sehat, nyaman, tertata, bahkan bebas asap rokok.
Inspirasi itu lahir dari pengalaman Prof. Zubair selama menempuh pendidikan di Jepang. Budaya disiplin, kebersihan, dan kepedulian terhadap lingkungan yang ia temui di Negeri Sakura kemudian diadaptasi menjadi konsep pengembangan lingkungan di kawasan tempat tinggalnya.
Dari semangat tersebut lahirlah Bank Sampah Unit (BSU) Nurul Ilmi, sebuah gerakan masyarakat yang kini menjadi motor penggerak berbagai program pengelolaan sampah dan pemberdayaan lingkungan di kawasan tersebut.
Ketua Umum BSU Nurul Ilmi, Andi Nirma Naim, menuturkan bahwa perjalanan komunitas itu bermula dari kesadaran bahwa persoalan sampah tidak bisa sepenuhnya dibebankan kepada petugas kebersihan atau pemerintah.
“Kami melihat persoalan sampah tidak bisa hanya diselesaikan dengan mengandalkan petugas kebersihan. Harus ada perubahan perilaku dari warga,” ujar Andi Nirma, Kamis (11/6/2026).
Menurutnya, perubahan sistem pengangkutan sampah yang mulai dirasakan warga pada awal 2025 menjadi momentum untuk membangun kesadaran bersama bahwa pengelolaan sampah harus dimulai dari rumah tangga.
Dari pemikiran tersebut, warga kemudian mendirikan BSU Nurul Ilmi yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat pengumpulan sampah bernilai ekonomis, tetapi juga menjadi pusat edukasi lingkungan bagi masyarakat.
“Visi kami bukan sekadar mengumpulkan sampah, tetapi menjadikan kawasan ini sebagai contoh pengelolaan sampah berbasis masyarakat yang berkelanjutan,” katanya.
Gerakan ini juga terintegrasi dengan konsep pengembangan Masjid Peduli Lingkungan yang dikembangkan warga bersama pengurus Masjid Nurul Ilmi. Berbagai program kemasjidan diarahkan untuk memperkuat kesadaran menjaga lingkungan, termasuk melalui penerapan konsep zakat hijau.
Sebagai akademisi, Prof. Zubair mendorong setiap program dijalankan secara terstruktur melalui roadmap jangka pendek maupun jangka panjang yang berfokus pada edukasi, perubahan perilaku, pemilahan sampah dari rumah, hingga pengembangan ekonomi berbasis lingkungan.
Saat ini, fokus utama yang tengah dijalankan adalah memastikan seluruh warga mampu memilah sampah secara mandiri dan konsisten di rumah masing-masing.
“Progresnya bertahap. Kami ingin semua warga mendapatkan pendampingan agar mampu memilah sampah sejak dari rumah,” jelas Andi Nirma yang juga merupakan Bendahara Masjid Nurul Ilmi.
Dalam perjalanannya, BSU Nurul Ilmi mendapat dukungan dari berbagai pihak. Mulai dari Pemerintah Kelurahan Tamangapa, Pemerintah Kecamatan Manggala, Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Dinas Pertanian dan Perikanan, hingga komunitas pemerhati lingkungan.
Dukungan juga datang dari pihak pengembang perumahan yang memberikan bantuan sarana, prasarana, pemanfaatan lahan, hingga dukungan pendanaan kegiatan warga.
Selain itu, sejumlah akademisi, tokoh masyarakat, pegiat lingkungan, serta media yang fokus pada isu lingkungan turut memberikan pendampingan dan masukan dalam pengembangan program.
“Kolaborasi menjadi salah satu kunci keberhasilan gerakan ini. Kami tidak bisa berjalan sendiri. Banyak pihak yang memberikan ilmu, pendampingan, hingga motivasi,” ungkapnya.
Salah satu program terbaru yang tengah dikembangkan adalah pembangunan pusat pengolahan sampah organik menjadi pupuk kompos.
Lokasi pengolahan tersebut berada berdampingan dengan kebun PKK dan Kelompok Wanita Tani (KWT), sehingga membentuk ekosistem yang saling mendukung antara pengelolaan sampah dan pertanian perkotaan.
Saat ini terdapat dua unit teba atau lubang pengolahan organik yang sedang digunakan untuk menghasilkan kompos. Hasilnya nanti akan dimanfaatkan untuk mendukung program urban farming yang terus berkembang di lingkungan warga.
“Urban farming akan menjadi pengguna utama kompos yang kami produksi. Jadi sampah yang diolah kembali memberi manfaat langsung bagi lingkungan sekitar,” jelasnya.
Konsep tersebut dirancang untuk menciptakan ekonomi sirkular di tingkat permukiman. Sampah yang dihasilkan warga diolah kembali dan memberikan nilai tambah bagi masyarakat di dalam kawasan.
Bahkan, BSU Nurul Ilmi kini tengah berupaya membangun pasar internal bagi berbagai produk hasil pengolahan sampah, baik organik maupun nonorganik.
“Kami ingin nilai ekonominya tetap berputar di dalam kawasan. Hanya sampah residu yang nantinya dibuang ke tempat pemrosesan akhir,” katanya.
Bagi Andi Nirma, tujuan utama gerakan yang dibangun bukan semata menciptakan lingkungan yang bersih, tetapi juga menumbuhkan budaya sadar lingkungan dan kebiasaan memilah sampah sejak dari rumah.
Karena itu, tim Agent of Change yang dibentuk warga terus melakukan edukasi, sosialisasi, dan pendampingan kepada masyarakat secara berkelanjutan.
“Kami ingin membuktikan bahwa lingkungan bersih bukan karena membayar petugas kebersihan lebih banyak, tetapi karena masyarakatnya memiliki kesadaran dan budaya hidup bersih,” tegasnya.
Di tengah berbagai tantangan pengelolaan sampah perkotaan, warga Cluster Berlian Permai memilih bergerak daripada mengeluh. Langkah-langkah kecil yang mereka lakukan hari ini perlahan tumbuh menjadi gerakan kolektif yang membawa perubahan nyata.
Dari sebuah kawasan permukiman di Manggala, lahir harapan bahwa perubahan besar dapat dimulai dari lingkungan terkecil, ketika masyarakat memiliki kemauan untuk bergerak bersama menjaga bumi dan masa depan mereka.
