MAKASSAR, SMARTMAKASSAR.COM — Pemerintah Kota Makassar terus membenahi sistem persampahan dengan memperkuat armada pengangkutan sekaligus mendorong pengolahan sampah sejak dari sumbernya. Langkah ini dilakukan untuk menghadapi tingginya volume sampah yang dihasilkan masyarakat setiap hari.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Makassar Helmy Budiman mengatakan, hingga 2026 dukungan armada persampahan di Kota Makassar terdiri atas berbagai jenis kendaraan, mulai dari motor roda tiga, armada Tangkasaki, dump truck, arm roll truck hingga mobil sampah compactor.
“Armada tersebut menjadi bagian penting dalam mendukung proses pengangkutan sampah dari lingkungan permukiman menuju lokasi TPA sesuai jenis kategori pemilahan sampah,” jelas Helmy, Selasa (25/8/2026).
Berdasarkan data inventaris DLH Makassar, armada persampahan yang tersebar di 14 kecamatan terdiri atas ribuan kendaraan dengan kondisi yang beragam.
Untuk motor roda tiga, tercatat sebanyak 1.073 unit. Dari jumlah tersebut, 760 unit masih dalam kondisi baik dan aktif beroperasi, 236 unit mengalami rusak ringan, sedangkan 77 unit masuk kategori rusak berat.
Selain itu, Pemkot Makassar memiliki 221 unit armada Tangkasaki. Sebanyak 183 unit masih dalam kondisi baik dan beroperasi, 35 unit mengalami rusak ringan, sementara tiga unit rusak berat.
Untuk jenis dump truck atau armada terbuka, tersedia 147 unit. Sebanyak 103 unit dalam kondisi baik dan masih beroperasi, sedangkan 44 unit mengalami rusak ringan. Tidak terdapat armada dump truck yang tercatat mengalami rusak berat.
Sementara itu, armada arm roll truck tercatat sebanyak 62 unit. Sebanyak 44 unit masih dalam kondisi baik dan beroperasi, sedangkan 18 unit mengalami kerusakan ringan.
Untuk arm roll truck dengan kapasitas lebih dari 10 meter kubik, tersedia 16 unit. Dari jumlah tersebut, delapan unit masih beroperasi, empat unit rusak ringan dan empat unit lainnya mengalami rusak berat.
Adapun mobil sampah compactor berjumlah tujuh unit. Sebanyak lima unit masih beroperasi, sedangkan dua unit mengalami kerusakan.
Helmy mengatakan, kondisi tersebut menunjukkan sistem pengangkutan sampah Makassar ditopang armada dengan karakteristik dan kapasitas yang beragam.
Namun, meningkatnya kebutuhan pelayanan persampahan membuat kondisi armada yang mengalami kerusakan perlu menjadi perhatian agar tidak menghambat efektivitas pengangkutan di lapangan.
“Karena itu, pengelolaan sampah tidak cukup hanya mengandalkan penambahan maupun peremajaan armada. Kita juga mendorong perubahan pola pengelolaan sampah mulai dari tingkat rumah tangga dan lingkungan,” tuturnya.
Menurut Helmy, sampah seharusnya dipilah sejak dari sumbernya sehingga sebagian dapat diolah dan dimanfaatkan kembali.
Sampah organik, misalnya, dapat diolah menjadi pakan maggot, pakan ternak maupun pupuk kompos.
“Dengan cara tersebut, sampah yang sebelumnya berakhir di tempat pembuangan dapat berubah menjadi sesuatu yang memiliki nilai manfaat,” katanya.
Untuk mendukung pola tersebut, DLH Makassar terus melengkapi sarana dan prasarana pengelolaan sampah secara bertahap, termasuk penambahan armada berupa tiga unit mobil serta sejumlah motor sampah.
Penguatan sistem juga dilakukan melalui pengelolaan sampah berbasis wilayah, mulai dari penambahan kendaraan pengangkut hingga peningkatan fasilitas pengolahan sampah di tingkat kecamatan.
Helmy menjelaskan, penambahan armada pada 2026 merupakan kelanjutan dari dukungan kendaraan yang telah direalisasikan pemerintah pada tahun sebelumnya.
Pada 2025, Pemkot Makassar merealisasikan bantuan sebanyak 50 unit kendaraan, terdiri atas sembilan unit dump truck, 11 unit arm roll, serta kendaraan pendukung lainnya.
Sementara pada 2026, DLH kembali melakukan pengadaan 30 unit motor sampah dan 10 unit arm roll.
“Pengadaan armada baru sudah kami lakukan. Pada tahun ini, terdapat penambahan 30 unit motor sampah dan 10 unit armroll,” terangnya.
Menurut Helmy, penambahan armada masih akan diupayakan melalui anggaran perubahan. Namun, realisasinya tetap disesuaikan dengan kemampuan keuangan daerah.
“Nantinya, pada saat anggaran perubahan, kami akan berupaya untuk menambah kembali armada truk sampah, tergantung pada kemampuan keuangan di perubahan anggaran tersebut,” katanya.
Selain menambah kendaraan, DLH Makassar mulai memperkuat penggunaan teknologi dalam pengolahan sampah.
Salah satunya melalui pengadaan mesin pencacah yang berfungsi memotong, merajang, atau menghancurkan sampah menjadi ukuran lebih kecil sehingga mempermudah proses pengolahan dan daur ulang.
DLH juga menyiapkan mesin pencacah sampah organik untuk memperkecil ukuran material seperti ranting, daun, dan sisa sayuran agar lebih cepat terurai atau masuk ke proses pengomposan.
“Kami juga mulai beralih secara bertahap menggunakan mesin sampah karena alat tersebut lebih hemat dan mampu mengangkut sampah dalam jumlah yang lebih banyak,” bebernya.
Mesin yang telah disiapkan untuk didistribusikan terdiri atas 10 unit mesin pencacah anorganik, 10 unit mesin pengayak, dan 24 unit mesin pembubur.
Sementara pengadaan mesin pencacah organik akan diupayakan pada anggaran pokok berikutnya.
“Mesin pencacah organik itu rencana pengadaan berikutnya, diupayakan pada anggaran pokok, untuk mempercepat proses pembuatan kompos di masyarakat,” katanya.
Transformasi pengelolaan sampah juga dilakukan dengan mendorong penggunaan mesin compactor secara bertahap serta memperkuat keberadaan Tempat Penampungan Sementara (TPS) 3R dan fasilitas pengolahan sampah di tingkat kecamatan.
Helmy mengatakan, penguatan Bank Sampah Unit (BSU), Bank Sampah Sektor (BSS), dan TPS3R di setiap wilayah menjadi strategi penting agar masyarakat mampu menyelesaikan sampah sejak dari sumbernya.
“Kami juga berharap setiap kecamatan untuk meningkatkan kinerja Bank Sampah Unit dan Bank Sampah Sektor,” ungkapnya.
“Jika Bank Sampah Unit, Bank Sampah Sektor, dan TPS3R sudah bertumbuh dan banyak di masing-masing wilayah, otomatis volume sampah yang dapat diselesaikan akan semakin besar,” sambung Helmy.
Ia menegaskan, penanganan sampah ke depan tidak boleh hanya mengandalkan sistem pengangkutan menuju tempat pemrosesan akhir. Sampah harus mulai diselesaikan dari rumah tangga, lingkungan, hingga secara komunal di tingkat kecamatan.
Dengan semakin banyaknya fasilitas pengolahan dan bank sampah, volume sampah yang harus diangkut menuju TPA diharapkan dapat ditekan.
“Dengan sistem ini, penanganan sampah tidak hanya diselesaikan secara mandiri oleh masyarakat, tetapi juga secara komunal dan tingkat kecamatan,” jelasnya.
DLH Makassar juga memastikan berbagai mesin pengolahan sampah siap didistribusikan ke wilayah kecamatan melalui fasilitas TPS3R.
Mesin tersebut mencakup mesin pencacah anorganik, mesin pengayak, hingga mesin pembubur. Kehadiran peralatan tersebut diharapkan meningkatkan kapasitas pengolahan sampah di tingkat wilayah.
“Mesin-mesin ini didistribusikan ke kecamatan melalui TPS3R. Harapannya, dengan adanya mesin-mesin ini, daya pengolahan sampah di tingkat kecamatan menjadi semakin besar,” tutur Helmy.
Ia menambahkan, sebagian besar mesin pengolahan telah dibagikan dan diterima pihak kecamatan maupun pengelola TPS3R. Sementara sebagian lainnya masih dalam proses distribusi.
Dengan penguatan armada, teknologi pengolahan, bank sampah, dan TPS3R, Pemkot Makassar menargetkan semakin banyak sampah yang dapat diselesaikan di tingkat masyarakat dan wilayah sebelum akhirnya dibawa ke tempat pemrosesan akhir.
“Jadi, semakin banyak sampah yang dapat diselesaikan di tingkat masyarakat dan wilayah sebelum masuk ke TPA,” tukasnya.
