MAKASSAR, SMARTMAKASSAR.COM —
Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2026 menjadi momentum penguatan akses pembiayaan dan perluasan pasar global bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) Sulawesi Selatan. Melalui program business matching yang difasilitasi Bank Indonesia (BI), nilai fasilitasi pembiayaan UMKM hingga Juli 2026 mencapai Rp285 miliar.
Capaian tersebut terdiri dari pembiayaan inklusif sebesar Rp150 miliar dan pembiayaan berkelanjutan sebesar Rp135 miliar. Nilai tersebut masih berpotensi meningkat seiring dengan realisasi pembiayaan hingga akhir tahun 2026.
Dalam rangkaian KKI 2026, sebanyak delapan lembaga keuangan yakni BRI, BCA, BSI, Mandiri, SMBC, Panin Bank, OCBC, dan BNI melakukan penandatanganan kesepakatan pembiayaan dengan UMKM mitra masing-masing melalui Gebyar Pembiayaan. Kegiatan tersebut merupakan hasil fasilitasi business matching pembiayaan UMKM oleh Bank Indonesia.
Deputi Gubernur Bank Indonesia Aida S. Budiman menyampaikan bahwa BI berperan sebagai katalis dalam memperkuat pembiayaan UMKM dari sisi pasokan maupun permintaan. Dari sisi pasokan, BI mendorong penyaluran pembiayaan melalui kebijakan insentif likuiditas makroprudensial, sementara dari sisi permintaan dilakukan penguatan rekam jejak usaha melalui digitalisasi pembayaran QRIS.
Menurut BI, tantangan pembiayaan UMKM tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan dana, tetapi juga kesiapan usaha, persepsi risiko, serta kemampuan mempertemukan UMKM dengan lembaga keuangan. Karena itu, BI Sulawesi Selatan terus memperkuat pengembangan UMKM dari hulu hingga hilir melalui peningkatan kapasitas usaha, penguatan rekam jejak keuangan, peningkatan visibilitas, serta perluasan akses pasar melalui program UMKM Rewako.
Selain akses pembiayaan, KKI 2026 juga membuka peluang ekspor bagi UMKM Sulsel. Business Matching Ekspor yang berlangsung pada 20–22 Agustus 2026 menghasilkan kesepakatan Letter of Intent (LOI) antara tujuh UMKM Sulsel dengan buyer luar negeri dengan potensi transaksi ekspor mencapai lebih dari Rp380,75 juta.
Beberapa UMKM yang mencatat nilai LOI terbesar berasal dari sektor kopi. Kopi Luwak Malino dengan produk kopi Arabica Malino memperoleh kesepakatan dengan buyer Kanada senilai Rp245 juta. Sementara CV Panrita Jaya Group dengan produk kopi Arabica Toraja dan Enrekang menjalin kerja sama dengan buyer Singapura senilai Rp92,25 juta.
Melalui KKI 2026, Bank Indonesia Sulawesi Selatan bersama para pemangku kepentingan berkomitmen memperkuat daya saing UMKM agar mampu menembus pasar global sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
