MAKASSAR, SMARTMAKASSAR.COM — Pengelolaan sampah di Kota Makassar mulai diarahkan tidak hanya sebagai upaya menjaga kebersihan lingkungan, tetapi juga sebagai peluang untuk mengembangkan sektor usaha baru. Komunitas pengusaha Tangan Di Atas (TDA) Makassar pun menyatakan kesiapan untuk ikut memperkuat ekosistem bisnis persampahan melalui pembinaan dan pendampingan pelaku UMKM.
Komitmen tersebut disampaikan dalam rapat koordinasi TDA Makassar bersama Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin di Kantor Balai Kota Makassar, Senin (10/8/2026).
Ketua TDA Makassar, Reza, mengatakan pengelolaan sampah merupakan persoalan bersama yang membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, termasuk sektor swasta dan pelaku usaha.
“Komunitas pengusaha Tangan Di Atas Makassar mensupport program pemilahan sampah yang ada di Kota Makassar. Tentu, ini bagian dari tanggung jawab bersama,” ujarnya.
Dalam pertemuan itu, TDA Makassar tidak hanya menyatakan dukungan terhadap program Pemerintah Kota Makassar, tetapi juga menawarkan kontribusi melalui pembinaan dan pendampingan bagi pelaku usaha yang bergerak di sektor persampahan.
Reza mengatakan, hasil diskusi bersama Pemkot Makassar menunjukkan masih terdapat sejumlah persoalan dalam pengelolaan sampah. Salah satunya berkaitan dengan tata kelola bisnis pada sektor usaha persampahan.
“Tadi kami banyak berdiskusi tentang apa masalah di waste management ini,” kata Reza.
Menurutnya, waste management atau pengelolaan sampah mencakup rangkaian kegiatan mulai dari pengumpulan, pengangkutan, pemilahan, pengolahan, daur ulang hingga pembuangan akhir.
Pengelolaan yang baik tidak hanya bertujuan mengurangi dampak sampah terhadap lingkungan dan menekan volume sampah yang masuk ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA), tetapi juga dapat mengubah sampah menjadi sumber daya yang memiliki nilai ekonomi.
Reza menyebut, sejumlah anggota TDA Makassar telah menjalankan bisnis di sektor pengelolaan sampah. Pengalaman tersebut menjadi modal bagi komunitas untuk ikut memberikan solusi kepada pemerintah, terutama dalam meningkatkan kapasitas pelaku usaha persampahan.
Salah satu persoalan yang masih ditemui adalah keterbatasan pemahaman sebagian pelaku usaha terhadap tata kelola bisnis persampahan secara profesional.
“Nah, kami menawarkan solusi itu untuk pendampingan,” tuturnya
TDA Makassar, kata Reza, memiliki ekosistem pengusaha yang dapat dimanfaatkan untuk membantu pelaku usaha pengelolaan sampah meningkatkan kapasitas dan skala bisnisnya.
Pendampingan akan diarahkan terutama kepada usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), baik yang telah bergerak di sektor persampahan maupun yang mulai tertarik menjadikan pengelolaan sampah sebagai bidang usaha.
“Kita punya ekosistem yang bisa scale up bisnis-bisnis waste management yang dari UMKM. Mungkin nanti akan ada pertemuan lanjutan dengan dinas-dinas terkait untuk membahas permasalahan ini,” jelasnya.
Reza menilai, persoalan sampah di Makassar tidak seharusnya hanya dilihat dari sisi lingkungan. Jika dikelola dengan sistem bisnis yang tepat, sampah juga memiliki potensi untuk menjadi sumber ekonomi baru.
Menurutnya, masih banyak potensi ekonomi dari sampah yang belum dimanfaatkan secara maksimal. Karena itu, TDA mendorong semakin banyak UMKM melihat sektor persampahan sebagai ruang usaha yang menjanjikan.
“Banyak yang mengelola sampah di Makassar, tetapi yang melihat sampah itu bernilai belum banyak. Jadi sasarannya adalah UMKM, supaya banyak yang muncul dari peluang bisnis pengelolaan sampah ini,” katanya.
Ia menegaskan, TDA Makassar tidak mengambil posisi sebagai penyedia peralatan pengolahan sampah. Fokus komunitas lebih kepada pembinaan, pendampingan, serta pembangunan ekosistem dan jejaring pengusaha.
Potensi tersebut didukung basis anggota TDA Makassar yang cukup besar. Reza menyebut terdapat sekitar 3.000 anggota TDA di Makassar, dengan sekitar 90 persen di antaranya merupakan pelaku UMKM.
“Di Makassar kita ada 3.000 member. Sekitar 90 persen merupakan UMKM,” ungkapnya.
Dengan basis tersebut, TDA ingin mengambil peran dalam melahirkan lebih banyak pelaku usaha yang bergerak di sektor persampahan.
“Fokusnya pada pembinaan dan pendampingan. Kita buat ekosistem pengusahanya,” tegas Reza.
Dalam pertemuan bersama Wali Kota Makassar, TDA juga mempertemukan sejumlah pelaku usaha yang peduli terhadap persoalan persampahan dengan pemerintah.
Langkah tersebut dilakukan agar berbagai kendala yang dihadapi pelaku usaha dapat disampaikan secara langsung sekaligus dibahas untuk mencari solusi bersama.
Reza menilai, persoalan persampahan tidak mungkin diselesaikan oleh satu pihak. Karena itu, komunikasi langsung antara pemerintah dan pelaku usaha menjadi langkah penting untuk menemukan akar persoalan.
“Yang kami lakukan adalah mempertemukan langsung sektor swastanya dengan Pak Wali. Kebetulan sektor swastanya itu member-member kami,” jelasnya.
Dari pertemuan tersebut, TDA Makassar mendapat dukungan untuk berkolaborasi dengan Pemkot Makassar dalam pembinaan pengusaha yang bergerak di bidang pengelolaan sampah.
Ia berharap kolaborasi itu dapat melahirkan lebih banyak pelaku usaha persampahan dengan tata kelola bisnis yang baik sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.
Sementara itu, Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam menangani persoalan persampahan di Kota Makassar.
Menurutnya, pemerintah membutuhkan keterlibatan aktif masyarakat, komunitas, dunia usaha hingga pelaku UMKM untuk membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih efektif.
“Kita ingin solusi terhadap berbagai persoalan pengelolaan sampah di Makassar, sekaligus membuka ruang kolaborasi dengan komunitas untuk mencari solusi yang dapat diterapkan secara nyata di lapangan,” ujarnya.
Munafri mengatakan, penanganan sampah membutuhkan perubahan pendekatan. Pemerintah tidak dapat hanya berfokus pada kegiatan mengangkut dan membuang sampah, tetapi harus memperkuat pengelolaan sejak dari sumber.
Karena itu, keterlibatan masyarakat dan sektor swasta dinilai penting untuk membangun ekosistem persampahan yang terintegrasi, mulai dari pemilahan, pengolahan hingga pemanfaatan kembali sampah yang masih memiliki nilai ekonomi.
Munafri menilai komunitas seperti TDA Makassar memiliki potensi besar karena didukung jaringan pelaku usaha yang luas. Jaringan tersebut dapat diarahkan untuk melahirkan inovasi sekaligus mengembangkan peluang ekonomi dari sektor persampahan.
Menurutnya, sampah tidak selamanya harus dipandang sebagai sesuatu yang harus segera dibuang. Sebagian sampah memiliki nilai ekonomi apabila dipilah dan dikelola secara tepat.
Karena itu, Pemkot Makassar membuka ruang bagi pelaku usaha untuk terlibat dalam pengelolaan sampah, khususnya dalam memperkuat sistem pemilahan dan pengolahan dari sumber.
“Yang kita bangun adalah ekosistemnya. Pemerintah menyiapkan kebijakan dan sistemnya, sementara masyarakat dan dunia usaha bisa mengambil peran sesuai kapasitasnya,” jelasnya.
Munafri juga menyambut baik tawaran TDA Makassar untuk mendampingi UMKM yang bergerak di bidang pengelolaan sampah.
Ia berharap kerja sama tersebut tidak berhenti pada pembahasan, tetapi dilanjutkan melalui langkah konkret bersama perangkat daerah terkait.
Dengan sinergi antara pemerintah, komunitas, pelaku usaha dan masyarakat, Munafri optimistis pengelolaan sampah di Makassar dapat dilakukan secara lebih terstruktur sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
“Semua harus mengambil bagian. Kalau kita bergerak bersama, persoalan sampah ini bisa kita tangani secara bertahap dan lebih baik,” tukasnya.
