MAKASSAR, SMARTMAKASSAR.COM – Upaya mengurangi beban Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) dan mewujudkan lingkungan yang lebih berkelanjutan menjadi fokus Pemerintah Kota Makassar melalui penguatan peran masyarakat dalam pengelolaan sampah dari tingkat rumah tangga.
Komitmen tersebut disampaikan Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, saat bertemu warga serta para Ketua RT dan RW di Cluster Berlin Permai, Kelurahan Tamangapa, Kecamatan Manggala, Selasa (9/6/2026), usai meninjau progres pembenahan TPA Tamangapa menuju sistem sanitary landfill.
Kedatangan Munafri disambut antusias warga yang telah menantikan kunjungannya. Pertemuan berlangsung dalam suasana santai melalui jamuan makan siang bersama sembari mendengarkan berbagai aspirasi masyarakat dan pengurus lingkungan.
Dalam kesempatan itu, Munafri menegaskan bahwa keberhasilan transformasi sistem pengelolaan sampah di Kota Makassar tidak hanya bergantung pada pembenahan infrastruktur TPA, tetapi juga memerlukan perubahan pola pengelolaan sampah di tingkat rumah tangga.
Menurutnya, penerapan sistem sanitary landfill menuntut adanya pengurangan volume sampah yang dibuang ke TPA melalui proses pemilahan dan pengolahan sejak dari sumbernya.
“Artinya tidak boleh lagi semua sampah langsung dibuang ke TPA. Sampah harus diselesaikan di rumah tangga, lalu yang sampai di TPA adalah yang sudah tidak bisa termanfaatkan,” ujar Munafri.
Untuk mendukung upaya tersebut, Munafri mendorong setiap RT membentuk Bank Sampah Unit (BSU) sebagai pusat pengelolaan dan pemilahan sampah di lingkungan masing-masing. Selain membantu mengurangi timbunan sampah, keberadaan BSU juga dinilai mampu memberikan nilai ekonomi bagi warga melalui pemanfaatan sampah anorganik yang memiliki nilai jual.
Tak hanya fokus pada pengelolaan sampah, Munafri juga mengajak masyarakat memanfaatkan lahan kosong untuk kegiatan urban farming, seperti budidaya ikan, penanaman tanaman pangan, peternakan skala rumah tangga, hingga produksi kompos dari sampah organik.
Menurutnya, konsep tersebut dapat menjadi solusi ganda karena tidak hanya mengurangi sampah yang masuk ke TPA, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan keluarga dan membuka peluang peningkatan pendapatan masyarakat.
Ia mencontohkan, sampah dapur yang selama ini dianggap tidak bernilai dapat diolah menjadi kompos dengan metode sederhana untuk menghasilkan pupuk organik yang bermanfaat bagi tanaman warga.
Sebagai bentuk apresiasi, Pemerintah Kota Makassar menyiapkan hadiah khusus bagi lingkungan yang dinilai berhasil menerapkan konsep pengelolaan sampah dan pemberdayaan masyarakat secara optimal.
“Saya pastikan RT yang terbaik tidak akan kurang 100 juta hadiahnya di ulang tahun Kota Makassar,” tegas Munafri.
Menurutnya, hadiah tersebut dapat dimanfaatkan untuk mendukung perbaikan fasilitas lingkungan maupun pengembangan program pemberdayaan masyarakat di tingkat RT.
Munafri berharap para Ketua RT dan RW dapat menjadi motor penggerak perubahan dengan menghadirkan berbagai inovasi yang mampu mendorong pengelolaan lingkungan secara berkelanjutan sekaligus meningkatkan kesejahteraan warga.
Ke depan, Pemerintah Kota Makassar juga akan menghadirkan program pendampingan yang melibatkan perangkat daerah, komunitas, akademisi, hingga sektor swasta. Pendampingan tersebut mencakup pelatihan pengelolaan sampah, urban farming, budidaya perikanan, peternakan, hingga pengembangan eco-enzyme.
Melalui gerakan yang melibatkan seluruh elemen masyarakat tersebut, Munafri menargetkan terbentuknya ekosistem pengelolaan sampah berbasis komunitas yang mampu mengurangi beban TPA, menciptakan lingkungan yang lebih hijau, serta menghadirkan manfaat ekonomi bagi masyarakat secara berkelanjutan.
