MAKASSAR, SMARTMAKASSAR.COM — Maraknya aksi geng motor yang dinilai semakin meresahkan warga Kota Makassar mendapat sorotan tajam dari aktivis dan penggiat isu inklusi Sulawesi Selatan, Rahman Gus Dur.
Dalam rilis pers yang disampaikan pada Senin (11/5/2026), ia menyampaikan keprihatinan mendalam sekaligus kritik keras terhadap Pemerintah Kota Makassar yang dinilai belum maksimal menangani persoalan tersebut.
Rahman menilai aksi geng motor di Makassar sudah tidak lagi dapat dianggap sebagai kenakalan remaja biasa, melainkan telah berkembang menjadi tindakan kekerasan yang terorganisir dan berulang.
Ia menyinggung sejumlah insiden yang terjadi dalam beberapa hari terakhir, mulai dari keributan di kawasan Pasar Senggol hingga aksi penyerangan yang kembali terjadi pada dini hari, Senin (11/5/2026).
“Ulah kelompok geng motor kini sudah bukan lagi kenakalan remaja biasa, melainkan tindakan kekerasan terorganisir, berulang, dan nyaris terjadi setiap hari,” ujar Rahman dalam keterangannya.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat masyarakat hidup dalam ketakutan dan kehilangan rasa aman saat beraktivitas di jalanan Kota Makassar.
Rahman juga menyoroti kasus seorang anak berusia 13 tahun yang menjadi korban penyerangan dan mengalami luka serius hingga harus menjalani perawatan intensif di rumah sakit.
“Anak yang seharusnya bermain, belajar, dan dilindungi negara malah menjadi sasaran kebiadaban di jalanan kota sendiri. Ini adalah dosa besar, ini bukti kelalaian fatal Pemerintah Kota Makassar,” tegasnya.
Dalam rilis tersebut, Rahman mempertanyakan langkah konkret Pemerintah Kota Makassar dalam melakukan pencegahan terhadap maraknya aksi kekerasan jalanan.
Ia menilai penanganan persoalan geng motor tidak bisa sepenuhnya dibebankan kepada pihak kepolisian, melainkan membutuhkan keterlibatan aktif pemerintah daerah melalui pendekatan sosial dan pembinaan remaja.
“Menangani masalah sosial seperti geng motor bukan hanya tugas polisi, tapi tugas utama dan mutlak pemerintah kota. Polisi bertugas menindak saat kejahatan terjadi, sementara pemerintah wajib melakukan pencegahan,” katanya.
Rahman menyebut upaya pencegahan dapat dilakukan melalui pembinaan karakter remaja, penyediaan ruang kegiatan positif, pengawasan sosial, hingga program pemberdayaan anak muda agar tidak terjerumus dalam aksi kriminal.
Ia juga mengkritik pemerintah yang dinilai lebih banyak fokus pada kegiatan seremonial dibanding memberikan perlindungan nyata kepada masyarakat.
“Rakyat tidak butuh kata-kata. Rakyat butuh tindakan nyata dan tegas,” ujarnya.
Melalui pernyataan resminya, Rahman Gus Dur menyampaikan tiga tuntutan kepada Pemerintah Kota Makassar, yakni meminta pemkot turun langsung menyusun langkah pencegahan sosial secara terpadu, memberikan jaminan keamanan kepada masyarakat khususnya anak-anak dan remaja, serta bertanggung jawab atas kondisi yang menyebabkan korban terus berjatuhan.
Ia berharap Pemerintah Kota Makassar segera mengambil langkah konkret agar situasi keamanan di kota tersebut dapat kembali kondusif.
“Jangan biarkan kota kebanggaan kita ini hancur dan kehilangan rasa aman semata-mata karena kelalaian dan ketidakpedulian,” pungkasnya.
